Kementerian PUPR Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi Musim Kemarau

TrubusNews
Astri Sofyanti
13 Juli 2019   14:00 WIB

Komentar
Kementerian PUPR Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi Musim Kemarau

Ilustrasi kekeringan (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyiapkan sejumlah langkah guna mengantisipasi musim kemarau 2019. Salah satu fokusnya adalah menjaga pasokan air bendungan dan irigasi sawah agar tidak menggangu produktivitas tanaman.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi mengugkapkan, lahan pertanian yang mengalami dampak kekurangan air pada musim kemarau tahun 2019 umumnya adalah sawah tadah hujan dan sawah yang mengandalkan irigasi teknis dari bendung yang bergantung pada debit air sungai.

“Sementara, untuk irigasi teknis yang mendapat jaminan air bendungan atau irigasi premium masih mendapat pasokan air yang cukup," demikian disampaikan Hari Suprayogi dalam siaran persnya, Sabtu, (13/7).

Baca Lainnya : Tangani Banjir Sultra, Kementerian PUPR Percepat Pembangunan Tiga Bendungan

Lebih lanjut dirinya mengatakan, dari 16 waduk utama dengan kapasitas minimal 50 juta meter kubik, 10 waduk dalam kondisi di bawah rencana dan enam waduk lainnya dalam kondisi normal.

"Waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kering diperkirakan akan berlangsung pada Agustus 2019 dengan cakupan 52,9 persen wilayah Indonesia terpapar musim kekeringan.

Untuk itu, Kementerian PUPR terus melakukan pemantauan di 16 waduk utama, yang meliputi Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-Ponre.

Baca Lainnya : Kementerian PUPR Fokus Layanan Air Bersih dan Sanitasi dalam Tanggap Darurat Banjir di Sultra

Terpantau per 30 Juni 2019 volume ketersediaan air dari 16 waduk utama tersebut sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik.

Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektare dari total 573.367 hektare. Sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah kondisinya 10 normal, 58 di bawah rencana dan tujuh kering.

Antisipasi lainnya yang dilakukan Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun 2019 ini adalah dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan mencapai 1.000 unit yang tersebar di 34 provinsi.

Selain itu, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap balai besar/balai wilayah sungai di daerah.

Baca Lainnya : Kementerian PUPR Kirim Jembatan Bailey Pasca Banjir di Sultra dan Sulteng 

Hari Suprayogi mengungkapkan beberapa daerah memang setiap tahun mengalami kekeringan, misalnya Gunung Kidul dan Bulukumba. Di daerah tersebut curah hujannya relatif sedikit sehingga cadangan air tanah terbatas.

Untuk daerah-daerah tersebut Kementerian PUPR membuat sumur bor dengan terlebih dahulu melakukan pengkajian potensi sumber air di sekitar.

“Untuk Gunung Kidul, Kementerian PUPR telah membangun beberapa telaga untuk mereduksi kekeringan ekstrem. Untuk daerah lain kami siapkan lima titik pengeboran air tanah untuk setiap balai di mana kita memiliki 34 balai. Artinya akan ada 170 titik baru. Selain itu juga dilakukan distribusi menggunakan mobil tangki air untuk daerah-daerah yang kritis air,” pungkasnya. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: