Musim Kemarau, Petani di Magetan Beralih Menjadi Buruh Pasir dan Batu

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
11 Juli 2019   17:30

Komentar
Musim Kemarau, Petani di Magetan Beralih Menjadi Buruh Pasir dan Batu

Petani di Magetan beralih menjadi buruh pasir dan batu (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Akibat dari dampak musim kemarau, sejumlah petani di Desa Joketro, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, beralih pekerjaan menjadi pencari pasir dan batu. Hal tersebut dikarenakan sawah tadah hujan mereka tidak dapat ditanami.

Salah satu petani desa setempat, Qodir menyampaikan bahwa dirinya mencari pasir dan batu sudah dilakukan sejak tiga tahun terakhir saat musim kemarau agar tetap mendapatkan penghasilan saat tidak menggarap sawah.

"Kalau kemarau seperti ini, sawah di wilayah Parang tidak dapat ditanami. Kami menggarap sawah saat musim hujan saja. Selebihnya petani beralih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Biasanya cari batu dan pasir ataupun jadi kuli bangunan," kata Qodir kepada di Magetan, dikutip Antaranews.

Dijelaskannya, batu dan pasir yang menjadi sumber pendapatannya saat ini diperoleh dari sungai di dekat desanya. Aliran sungai yang mengering menjadi lahan baru bagi Qodir dan istrinya untuk mencari material batu dan pasir di dasar sungai.

Baca Lainnya : Keuntungan Berlipat Ganda, Menteri Amran Dorong Petani Bawang Gunakan Metode BAMELE

Qodir mengaku bersama istrinya dalam sehari mampu menghasilkan pasir dan batu sebanyak 15 gerobak sorong. Material tersebut kemudian diayak untuk dipisahkan antara pasir dan batu.

Dalam sehari rata-rata penghasilan mereka berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu setelah laku terjual.

Sementara itu, Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHP-KP) Kabupaten Magetan, mencatat sebanyak 4.100 dari 28.000 hektare lahan pertanian di wilayah setempat tidak dapat ditanami selama musim kemarau akibat tidak cukup mendapat pengairan.

Karena merupakan lahan kering, akhirnya lahan tersebut sengaja tidak ditanami padi oleh para petani saat kemarau. Hal itu untuk menghindari puso atau gagal panen karena minimnya pengairan.

Baca Lainnya : Sekolah Lapangan Iklim Rekomendasikan Padi Situ Bagendit dan Ciliwung kepada Petani Temanggung

Sementara, total luas lahan di Magetan yang ditanami padi pada musim kemarau pertama (MK 1) mencapai seluas 21.000 hektare. Dari jumlah ribuan hektare tersebut, terdapat 849,2 hektare lahan pertanian yang mengalami kekeringan dan bahkan terancam puso. Jumlah itu meluas dari sebelumnya yang hanya 167 hektare.

Kepala Dusun Jokerto Purnomo membenarkan kondisi tersebut. Bahkan embung yang terdapat di wilayahnya kondisinya surut dan tidak bisa mencukupi pengariran lahan pertanian yang mencapai 10 hektare lebih.

Oleh sebab itu pihaknya mendorong Pemkab Magetan dapat mengatasi kekeringan yang terjadi tiap tahun.

"Kami sudah mengajukan penambahan sumur pompa pertanian. Namun, usulannya itu belum terealisasi," ujar Purnomo. [NN]


 

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


jesica oktavia 11 Juli 2019 - 20:07

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: