Kemarau Panjang Pengaruhi Kenaikan Permintaan Beras, Apa Sebabnya? 

TrubusNews
Binsar Marulitua
11 Juli 2019   16:00 WIB

Komentar
Kemarau Panjang Pengaruhi  Kenaikan Permintaan Beras, Apa Sebabnya? 

Ilustrasi Petani (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Musim kemarau yang diprediksi berlangsung dalam waktu yang lama tahun ini, berpotensi menimbulkan dampak pada permintaan beras yang naik.  
Hal ini dikarenakan pada musim kemarau, petani berisiko untuk gagal panen dan  memilih untuk tidak menanam padi.

"Hal ini akan memengaruhi hasil penyerapan beras yang dilakukan Bulog," jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania di Jakarta, Kamis (11/7/2019). 

Galuh menerangkan pemerintah lewat Bulog harus memikirkan strategi agar harga beras tidak melonjak karena tidak sebandingnya demand (permintaan) dan supply (penawaran). Salah satu langkah yang nyata yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan operasi pasar yang pelaksanaannya sudah diperpanjang hingga akhir tahun 2019 ini. 

Beras-beras yang ada di gudang Bulog harus dapat dimanfaatkan untuk operasi pasar di tengah musim kemarau ini. Namun kualitasnya harus tetap diperhatikan.

Baca Lainnya : AWAS Kekeringan, BMKG Prediksi Musim Kemarau Berlangsung Sampai Desember 2019

“Selain memperhatikan kualitasnya, Pemerintah juga dapat melihat harga sebagai parameter untuk mengukur ketersediaan beras di pasaran. Sederhana aja, saat harga naik tentu saja ada supply yang berkurang. Hal ini seharusnya dapat dijadikan acuan saat akan memutuskan kebijakan,” jelas Galuh.

Selain itu, tambah Galuh, pemerintah juga harus merancang rencana cadangan kalau operasi pasar masih juga belum mampu meredam lonjakan harga beras di pasar. Beras yang sepenuhnya diserap akan dibeli dengan harga minimal HPP. 

Namun sayangnya, nilai HPP terlalu rendah karena harga di pasar selalu jauh lebih tinggi. Hal ini tentu akan membuat petani merugi. Pasalnya dengan kondisi stok panen gabah terbatas dan petani harus berhadapan dengan musim kemarau panjang, biaya produksi juga akan meningkat. Biaya produksi yang tinggi mau tidak mau akan memengaruhi harga beras.

Lebih lanjut Galuh memberiak penjelasan perbedaan data beras antar kementerian atau pihak terkait mengakibatkan mandegnya keputusan penyelesaian masalah beras. Untuk itu, keakuratan data merupakan hal yang penting.

Dalam mengatasi lonjakan harga ini pemerintah juga harus mulai melakukan perhitungan apakah dengan segala kemungkinan yang sudah dilakukan, pemerintah perlu melakukan impor atau tidak.

Baca Lainnya : 5 Provinsi Berstatus AWAS Kekeringan, BMKG Minta Sektor Pertanian Waspada

"Jangan sampai keputusan impor muncul di tengah harga sudah terlanjur melonjak dan justru menjadikan kebijakan impor tersebut tidak efektif karena tidak dilakukan dari jauh-jauh hari sebelum harga beras internasional naik," ujarnya 

 Bulog dalam hal ini juga diharapkan dapat menyerap beras dari petani semaksimal mungkin, dengan kebijakan di mana Bulog dapat membeli beras dengan harga komersial untuk menyesuaikan kondisi pasar harus dimanfaatkan dengan baik.

Skema yang tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian nomor 5 Tahun 2018 merupakan langkah yang membuka jalan bagi Bulog untuk tidak harus terpaku pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang tidak fleksibel. 

Pada akhirnya, harga yang melonjak ini perlu diantisipasi, di satu sisi agar dapat menjaga inflasi tetap berada di dalam batas yang wajar, dan tentunya agar tidak membebani masyarakat sebagai konsumen dan juga petani.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Upaya Outreach Sawit Indonesia Berkelanjutan di Slowakia

Peristiwa   16 Des 2019 - 09:20 WIB
Bagikan:          
Bagikan: