Kementan dan TNI Kawal Petani yang Terdampak Kekeringan

TrubusNews
Astri Sofyanti
08 Juli 2019   17:30 WIB

Komentar
Kementan dan TNI Kawal Petani yang Terdampak Kekeringan

Kekeringan Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Musim kemarau 2019, mengakibatkan sejumlah area pertanian di beberapa wilayah mulai terdampak kekeringan. Guna mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI Angkatan Darat berupaya mengatasinya dengan cara mekanisasi pompa. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengawal petani untuk terus berproduksi meski tengah dilanda musim kemarau.

Merespon hal tersebut, Waster Kasad Brigjen TNI Angkatan Darat Gathut Setyo Utomo mendukung penuh upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menanggulangi dampak kekeringan yang melanda sejumlah daerah. Dukungan itu antara lain melibatkan langsung personel TNI yang ada di seluruh daerah. 

"Kita dalam melaksanakan operasi militer, selain perang salah satunya adalah mengatasi kekeringan atau bencana alam. Maka itu, kita menjalin bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan pendampingan," kata Gathut dalam rapat koordinasi mitigasi kekeringan di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (8/7).

Baca Lainnya : Kementan: Pemanfaatan Alsintan Dukung Mitigasi saat Kekeringan

Dirinya mengungkapkan, TNI selama empat tahun terakhir telah melibatkan diri pada penanganan dampak kekeringan. Pengalaman itu, kata Gathut, menjadi bekal bahwa pemetaan wilayah dan pompanisasi menjadi penting dan harus dikerjakan bersama-sama.

"Soal mitigasi, tentu kita sudah memiliki pengalaman banyak karena beberapa kali kita turun ke lapangan bersama Kementan. Jadi, seperti kata Pak Dirjen tanaman pangan, bahwa menanggulangi kekeringan itu tidak bisa sendirian. Bagaimanapun harus ada sinergitas," ujarnya.

Gathut mengatakan, dukungan lain yang juga sedang dikerjakan TNI adalah mendirikan posko mitigasi kekeringan di daerah-daerah yang terkena dampak. Beberapa diantaranya ada di kawasan Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan provinsi lain diluar pulau Jawa.

“Selama ini kan kita sudah melakukan pendampingan Upsus (Upaya Khusus) yang diinisiasi para Babinsa. Di sana, mereka juga mengawal pembagian air supaya tidak rebutan dan menjebol titik air. Kemudian kita ikut mengawasi jalannya pompanisasi serta menjaga keamanan dan ketertiban lain,” ujarnya lagi.

Baca Lainnya : Balitbang Kementan Siapkan Teknologi Hadapi Dampak Kekeringan

Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Gatot Irianto mengatakan bahwa dampak kekeringan tahun ini relatif bisa diatasi mengingat area yang dulu mengalami kekeringan sudah dijadikan sumber air dengan pemanfaatan teknologi yang dimiliki.

"Jadi kita ingin sampaikan bahwa pendekatan mitigasi dan adaptasi kekeringan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau sekarang kita memanfaatkan wilayah yang dulunya kering menjadi sumber air," jelasnya.

Gatot menyatakan bahwa penggunaan pompa merupakan salah satu pemanfaatan teknologi yang mampu menumbuhkan luas lahan baru dan mengkompensasi lahan busuk menjadi produktif. Selain itu, panen yang dihasilkan juga lebih bermutu karena optik organisme pengganggu tanaman relatif lebih kecil.

"Berikutnya, seperti yang dikatakan pak Menteri; bahwa mobilisasi alat mesin pompa termasuk infrastruktur dan pipanisasi harus siap di daerah yang terdampak kekeringan. Kemudian kita juga menyiapkan benih unggul yang bisa beradaptasi di lahan bekas kering," urainya.

Baca Lainnya : Kementan Ajak Masyarakat Waspadai 15 Zoonosis Prioritas

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry. Dirinya mengatakan bahwa masuknya musim kemarau bukan berarti menjadi hambatan serius untuk meningkatkan semua produksi.

"Artinya semua lahan yang potensinya masih cukup untuk ditanami ya kita tanami. Jadi tidak ada lahan yang kosong. Makanya harus ada kerjasama yang erat antar pihak, termasuk dengan TNI," tuturnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: