Kemarau, 9.358 Hektare Sawah Gagal Panen

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
08 Juli 2019   14:00

Komentar
Kemarau, 9.358 Hektare Sawah Gagal Panen

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Sarwo Edhy, ketika menggelar konferensi pers di Kantor Kementan, Senin (8/7/19) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy, Kementerian Pertanian mengungkapkan, bahwa puncak musim kemarau 2019 akan terjadi pada Agustus. BMKG menyatakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan ekstrem pada musim kemarau 2019, meliputi Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.

BMKG juga menyatakan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi kekeringan ekstrem pada puncak musim kemarau yakni Agustus hingga September. Kondisi ini membuat Kementerian Pertanian berupaya untuk melakukan mitigasi dan adaptasi dampak kekeringan ekstrem akibat musim kemarau.

Baca Lainnya : Kementan Ajak Masyarakat Waspadai 15 Zoonosis Prioritas

Merespon hal tersebut, Kementerian Pertanian pada Senin (8/7) melaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Pertanian Kabupaten, Dinas PU Kabupaten serta Kodim di wilayah terdampak kekeringan guna melakukan mitigasi dan adaptasi kekeringan. Kegiatan ini bertujuan menentukan Rencana aksi setiap kabupaten/kecamatan sehingga semua unsur terkait bisa langsung action operasional di lapangan untuk penanganan pertanaman terdampak kekeringan baik yang sudah puso dan yang belum puso maupun pengamanan standing crop.

“Lahan pertanian seluas 102.654 hektare terdampak kekeringan pada musim kering 2019 terjadi di 100 kota/kabupaten yang tersebar di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan 9.358 hektare sawah padi di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami gagal panen atau puso," kata Sarwo Edhy ketika menggelar konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (8/7).

Baca Lainnya : Gerakan Kementan Memacu Ekspor Berbasis Digital Didukung Penuh Gubernur Jateng

Untuk membantu wilayah yang puso perlu menginventarisir keikutsertaan asuransi petani, apabila belum ada Kementan akan menyiapkan bantuan benih. Begitu pula untuk wilayah yang terancam kekeringan dan belum puso, perlu pengakitfan pompa, mengoptimalkan sumber air terdekat (sungai, danau, embung), normalisasi saluran, serta penyediaan sumur pantek.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga telah membangun 11.645 embung dan 4.042 irigasi perpompaan sebagai alteratif sumber air untuk irigasi lahan pertanian. Embung dan irigasi pompa ini dialokasikan untuk wilayah-wilayah yang berpotensi tinggi terjadi kekeringan.

Baca Lainnya : Kementan Implementasikan Hasil Penelitian di Lapangan

"Ini mohon dimanfaatkan untuk mengatasi daerah-daerah kering, jadi ke depan daerah-daerah yang berpotensi kekeringantahun 2019 dimohon untuk mengusulkan membuat embung. Embung ini kami harapkan sebagai bank air, untuk bisa menampung air-air dari sumber air melalui pipanisasi, kemudian kita manfaatkan untuk ke sawah-sawah tadah hujan yang memang sulit mendapatkan sumber air di musim kemarau," pungkasnya. [NN]

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Cindy Tanaka 08 Juli 2019 - 16:24

permisi ya mau numpang promosi bo kelinci99 silahkan kunjungi WWWoKELINCIPOKER99oME

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: