KLHK Klaim Kualitas Udara di Jakarta Bukan yang Terburuk

TrubusNews
Astri Sofyanti
05 Juli 2019   18:00 WIB

Komentar
KLHK Klaim Kualitas Udara di Jakarta Bukan yang Terburuk

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Karliansyah saat menggelar jumpa pers di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (5/7/19) (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Terkait pemberitaan beberapa hari terakhir soal buruknya kualitas udara di DKI Jakarta, yang sampai saat ini masih menjadi polemik untuk segera diselesaikan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali angkat bicara terkait dengan kualitas udara di Kota Jakarta.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Karliansyah saat menggelar jumpa pers di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (5/7/19) mengungkapkan, “jika berbicara soal kualitas udara ada beberapa syarat yang harus dipenuhi pertama adalah alat instrument yang digunakan untuk memantau harus yang menggunakan spesifikasi luar ruangan, yang ke dua alatnya harus statis (tidak boleh bergerak), ke tiga alat harus tiga meter dari permukaan tanah, kemudian jarak dengan jalan raya minimal 20 meter dan harus dikalibrasi secara rutin.”

Sementara itu, menurut Karliansyah secara internasional ada kesepakatan tentang Indeks Kualitas Udara standar World Health Organization (WHO) parameter PM2,5, dikatakan baik antara 0—12, tetapi jika menggunakan standar Amerika Indeks Kualitas Udara 0—50.

Baca Lainnya : Anies Sebut Kemarau Pengaruhi Kualitas Udara di Jakarta, Ini Tanggapan BMKG

“Jadi inilah yang kita pakai sebagai reverensi untuk menentukan status kualitas udara,” tambahnya.

Lebih lanjut dirinya menuturkan bahwa hal ini sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, maka waktu rentang nilai konsentrasi untuk parameter PM2,5 harus disampaikan dalam bentuk rata-rata harian/rata-rata tahunan. “Jadi kita tidak bisa menyampaikan jika datanya hanya data sesaat,” sambungnya.

Untuk membantu membangun jaringan pemantau kualitas udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memiliki 26 stasiun yang tersebar di Indonesia yakni AQMS, jika digabung dengan milik BMKG, milik pemerintah daerah ataupun swasta jumlahnya 71 stasiun, yang saling terkoneksi dan juga bisa diakses.

Baca Lainnya : BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Perburuk Kualitas Udara Perkotaan

Karliansyah mengatakan, di Jakarta, KLHK memiliki satu stasiun AQMS yang di pasang di Gelora Bung Karno, yang menunjukkan bahwa rata-rata harian PM 2,5 Kota Jakarta sejak 1 Januari sampai 30 Juni 2019 berada di angka 31,49 micrograms per cubic meter (μg/Nm³).

“Maka jika menggunakan data nasional kita 65 micrograms per cubic meter (μg/Nm³) kualitas rata-rata udara bagus atau sehat, tetapi kalau kita menggunakan data standar WHO pada angka 25 micrograms per cubic meter (μg/Nm³), maka kualitas udara Jakarta masuk kategori sedang,” tandasnya. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: