Gerakan Kementan Memacu Ekspor Berbasis Digital Didukung Penuh Gubernur Jateng

TrubusNews
Astri Sofyanti
04 Juli 2019   18:30 WIB

Komentar
Gerakan Kementan Memacu Ekspor Berbasis Digital Didukung Penuh Gubernur Jateng

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) dan Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi (kanan) Dalam kegiatan Soropadan Expo 2019 di Magelang, Jawa Tengah,Kamis (4/7/19) (Foto : Dok.Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo memberikan apresiasi tinggi dengan mengacungkan jempol atas kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) dalam upaya meningkatkan neraca perdagangan dengan memacu ekspor komoditas pangan. Gebrakan tersebut di antaranya penggunaan teknologi digital dari hulu hingga hilir, peningkatan sumberdaya petani, pengembangan pangan lokal dan kemudahan pelayanan penerbitan izin ekspor.

Dalam kegiatan Soropadan Expo 2019 yang diselenggarakan di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Soropadan, Magelang, Kamis (4/7), Ganjar mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementan memiliki kesamaan misi dalam mendongkrak neraca perdagangan melalui akselerasi ekspor.

Ganjar menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jateng memiliki aplikasi Agro Jowo sebagai pasar digital bagi petani dan konsumen. Sementara Kementan memiliki terobosan berupa aplikasi i-MACE (Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export), untuk mengetahui seluruh potensi-potensi pertanian berdaya ekspor, menerapkan sertifikat elektronik sehingga kegiatan ekspor menjadi cepat dan pasar lelang yang membantu petani memasarkan komoditas untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih tinggi.

Baca Lainnya : Dukung Jateng Menjadi Lumbung Pangan, PUPR Selesaikan Pembangunan 5 Bendungan

"Saya sepakat dengan Kementerian Pertanian, soal pertanian, soal pangan kita lah yang harus menjadi juara dunianya. Maka kalau neraca perdagangan sudah kita bicarakan dan teknologi sudah disiapkan, tinggal produktivitas yang didorong, kapasitas yang disiapkan dan kontinuitasnya juga dijaga," kata Ganjar, dalam keterangan resminya yang diterima Trubus.id di Jakarta, Kamis (4/7/19).

Untuk itu Ganjar menekankan Soropadan Expo 2019 ini diharapankan agar menjadi meeting point berkaitan dengan aspek hulu hingga hilir bisa dipelajari di expo ini. Di aspek hulu yakni belajar tentang teknik budidaya dan teknik menghasilkan komoditas yang berkualiatas. Misalnya, komoditas melon yang ditanam di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Soropadan, Magelang ternyata cepat matang, maka petani akan belajar terkait teknik yang paling baik dengan menghasilkan kualitas yang paling baik.

“Kemudian di aspek hilir, belajar cara memasarkan produk pertanian yang dihasilkan petani. bahkan selain kedua aspek ini, petani dan pelaku usaha berkumpul untuk saling bertukar informasi. Bahkan di sini sudah ada lelang komoditas pertanian. Semua proses ini selalu ada dalam setiap kegiatan Soropadan Expo. Nanti juga ada juga pelatihan untuk anak-anak muda agar bisa berdagang komoditas pertanian secara online,” tambahnya.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan bahwa Soropadan Expo merupakan momentum yang tepat untuk menitipkan berbagai komoditas pangan lokal unggulan kepada para degelasi agar bisa dipasarkan ke negara-negaranya. Ini merupakan salah satu cara memasarkan produk pangan agar bisa menembus pasar ekspor yang selama ini dirasarakan sulit.

Baca Lainnya : Mentan Pangkas Waktu Pengurusan Surat Izin, Ekspor Benih Hortikultura Meningkat Tajam

“Besok ada delegasi tur, Wakil Gubernur akan memimpinnya. Kami akan titipi komoditas yang selama ini sulit tembus pasar ekspor. Missal beras hitam ke Australia, kami akan titipi mumpung di sini ketemu. Ini cara dagang kita, titipi untuk bawa ke Australia lalu kita ekspor,” ujarnya.

“Presiden Jokowi kan meminta begitu, agar neraca perdagangan surplus, maka ekspor kita pacu. Pak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun membawa misi dalam meningkatkan ekspor yakni akan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045 dan hari ini kita sudah mulai menggerakannya,” pintanya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura, Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan gebrakan pemerintah Provinsi Jateng sangat luar biasa dalam memajukan komoditas pertanian khususnya hortikultura sehingga sesuai dengan slogannya “Jateng Gayeng”. Produk-produk unggulan semua kabupaten ditampilkan di Soropadan Expo, pelaku usaha datang baik secara fisik maupun online sehingga produk pertaniannya bisa menggelora, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di pasar ekspor.

“Tentu hal ini sejalan dengan gebrakan yang dilakukan Kementan selama ini. Buktinya di tahun 2018, Kementan berhasil mengekspor 42,5 juta ton dibanding 2013 hanya 33 juta ton sehingga ekspor komoditas pertanian naik 10 juta ton,” jelas Suwandi.

Lebih lanjut Suwandi menyebutkan salah satu kunci meningkatkan volume dan daya saing produk pangan di pasar dunia adalah dengan mengedepankan pangan lokal sebagai komoditas ekspor andalan. Karena itu, masyarakat jangan membeli atau konsumsi pangan impor. Sebab pangan lokal Indonesia termasuk dari Jawa Tengah seperti kedelai dan kopi tidak hanya memiliki kualitas yang bagus, tetapi juga memberikan stamina pada tubuh.

Baca Lainnya : Meski Luas Sawah Turun, Pemalang Mampu Tingkatkan LTT Padi Tertinggi se-Jateng

“Ekspor pangan lokal ni kita genjot lebih kencang lagi. Kebijakan pemerintah kita fasilitas baik berupa investasi maupun ekspor kita permudahan dan percepatan pengurusan izin dokumennya. Misalnya komoditas hortikultura kita sudah ekspor ke 113 negara. Jenis komoditas sayuran saja yang dari Provinsi Jawa Tengah yang diekspor sebanyak 32 jenis sayuran. Sentra produksi sayuran pun sudah banyak berkembang di berbagai kabupaten yang ada di Jawa Tengah, seperti tanaman obat tersebar di Karanganyar, Semarang, Temanggung dan banyak sentra komoditas lainnya yang berkembang di Jawa Tengah,” sebutnya.

Di sisi lain, lanjut Suwandi, pembagunan pertanian berbasis digital tidak hanya mendata potensi produk pertanian secara online yakni by name dan by address. Namun demikian juga dapat memecahkan masalah selama ini yakni pelaku usaha atau eksportir tidak akan lagi kebingungan dalam mencari pasokan dan petani ingin memasarkan produknya bisa kemana saja karena pelaku usaha sudah menggunakan pasar online, sehingga mempertemukan antara petani dengan pelaku sangat cepat dan efisien.

“Sebanyak 22 star up sudah kami link kan. Hal ini sesuai dengan tema yang diangkat expo ini yakni integasi teknologi informasi menuju petani semakin sejahtera. Kami di Kementan juga memberikan pelayanan online untuk izin ekspor komoditas hortikultura. Ekspor benih dan tanaman hias dulu membutuhkan waktu 13 hari atau 300 jam, tapi sekarang hanya butuh waktu 3 jam, izin langsung terbit,” ujarnya lagi. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Indonesia Jadi Contoh Negara Lain Manfaatkan Biodiesel

Peristiwa   09 Des 2019 - 17:39 WIB
Bagikan:          
Bagikan: