Meski Diklaim Naik Sejak 4,5 Tahun Terakhir, Menteri Susi Ingin Terus Tingkatkan Nilai Tukar Nelayan

TrubusNews
Astri Sofyanti
04 Juli 2019   18:00 WIB

Komentar
Meski Diklaim Naik Sejak 4,5 Tahun Terakhir, Menteri Susi Ingin Terus Tingkatkan Nilai Tukar Nelayan

Menteri Susi Pudjiastuti dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (4/7/19) (Foto : Trubus.id/Iman)

Trubus.id -- Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menginginkan agar nilai tukar nelayan terus mengalami peningkatan meski sejak tahun 2014 hingga awal 2019 nilai tukar nelayan mengalami peningkatan. Dirinya mgatakan bahwa hal tersebut tidak terlepas dari sejumalah program yang yang dilakukan pemerintah terkait kedaulatan kemaritiman tanah air.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ia paparkan, sebelum tahun 2014 nilai tukar nelayan di bawah 106, begitu KKP mencanangkan program kedaulatan, keberlanjutan, terjadi peningkatan signifikan dari 106, naik ke 108, 2017 naik menjadi 111, 2018 naik lagi menjadi 113, dan sampai Mei 2019 naik menjadi 113,08.

"Mudahan-mudahan nilai tular nelayan, nilai tukar usaha perikanan, para pembudidaya harus naik terus, tidak boleh turun. Saya lihat hari ini luar biasa karena terus membubukan kenaikan tiada henti," kata menteri Susi ketika melakukan Konferensi Pers di Kantor Pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (4/7).

Meski begitu, ia mengatakan bahwa angka tersebut belum memuaskan. Terlebih sejumlah penyebab kurangnya tangkapan ikan nelayan akibat faktor musim hujan turut memengaruhi.

"Kenapa biasanya awal tahun itu agak sedikit, karena memang biasanya musim hujan masih berlangsung, ikan ini baru mulai panen sekarang. Jadi musim kemarau itu ikan mulai ada. Sementara udang dan lobster datangnya pada musim hujan," tambahnya.

Menteri Susi menjelaskan bahwa jika dilihat dari tahun 2014 jauh kenaikannya dan itu dalam situasi ekonomi seluruh dunia slow down.

“Jadi tidak ada yang bilang penertiban atau ilegal fishing itu membuat mundur atau membuat stagnan ekonomi perikanan, tidak, ternyata malah justru luar biasa membaik dan mutlak kekuatan ini di bangun oleh armada tangkap dalam negeri dan juga budidaya hampir semuanya dalam negeri,

Lebih jauh Susi mengungkapkan, hilangnya 10.000 kapal asing justru menaikkan pendapatan di sektor ekonomi perikanan, karena diakui Susi jika dulu satu, tidak tercatat dan yang ke dua alat tangkapnya kebanyakannya trawl dan jaring-jaring yang ukurannya luar biasa dan menggunakan kapal yang besar akhirnya menghabiskan sumber daya perikanan Indonesia.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Ini 5 Daerah di Jawa Barat dengan Kasus Covid-19 Tertinggi

Peristiwa   11 Agu 2020 - 09:18 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: