Anies Sebut Kemarau Pengaruhi Kualitas Udara di Jakarta, Ini Tanggapan BMKG

TrubusNews
Astri Sofyanti
03 Juli 2019   14:00 WIB

Komentar
Anies Sebut Kemarau Pengaruhi Kualitas Udara di Jakarta, Ini Tanggapan BMKG

Kualitas udara DKI Jakarta (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Berdasarkan informasi yang dikeluarkan AirVisual, kualitas udara Jakarta pada Rabu (3/7) terpantau mencapai status Sangat Tidak Sehat dengan angka 165 AQI (Indeks Kualitas Udara). Bahkan AirVisual menyarankan masyarakat ibukota untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

AirVisual sendiri merupakan sebuah aplikasi pengukuran udara global secara real time dan dunia Internasional menggunakan AirVisual sebagai pengukuran kualitas udara sebuah kota.

Merespon hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan bahwa musim kemarau memengaruhi kualitas udara di ibukota.

Baca Lainnya : Polusi Udara Jakarta Jadi yang Terburuk di Dunia, Ini Respon Gubernur DKI

Atas pernyataan orang nomor satu di DKI Jakarta ini, Deputi Bidang Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG), Herizal turut angkat bicara.

Dirinya mengakui bahwa musim kemarau memang dapat membuat penurunan kualitas udara. Kondisi ini terjadi karena hujan yang berfungsi sebagai pembersih udara alami akan jarang turun ketika musim kemarau.

“Memang benar jika musim kemarau menjadi salah satu faktor besar yang memengaruhi kualitas udara, karena hujan sebagai pembersih alami akan cenderung tidak turun di musim kemarau, kondisi ini mengakibatkan udara akan lebih kotor dari biasanya,” terang Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, melansir dari detik.com, Rabu (3/7).

Baca Lainnya : Polusi Udara di Johor Malaysia, 75 Siswa Kesulitan Bernapas

Faktor lain yang mengakibatkan kulitas udara di DKI Jakarta buruk, diakui Herizal karena kondisi lalu lintas yang padat. Selain itu, keberadaan pabrik-pabrik di sekitar Jakarta menambah buruknya kualitas di Jakarta.

"Kombinasi faktor alam dan faktor antropogenik (aktivitas manusia) menyebabkan kualitas udara lebih buruk di musim kemarau," jelasnya.

Selain itu, dirinya menjelaskan bahwa sejak akhir Juni kemarin, hari tidak hujan berurutan (HTH) sudah terjadi lebih dari dua bulan. Herizal mengatakan, saat musim kemarau, tingkat kelembapan udara suatu daerah akan rendah, hal inilah yang mengakibatkan banyaknya debu terterbangan.

Baca Lainnya : Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 dalam Bayang Kelam Polusi Udara

Pada umumnya kelembapan udara ketika musim kemarau cenderung rendah sehingga banyak debu berterbangan.

"Selama musim kemarau selain hujan jarang turun, kelembapan udara umumnya rendah, karena kelembapan udara rendah maka ikatan partikel tanah di permukaan bumi menjadi rapuh dan mudah diterbangkan angin, mengapung di udara terbuka sehingga udara menjadi lebih keruh dari biasanya," ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan bahwa musim kemarau biasanya sering terbentuk lapisan inversi saat pagi hari. Lapisan itu membuat seolah udara keruh terperangkap di dekat permukaan bumi.

"Sehingga udara keruh seolah terperangkap di dekat permukaan bumi dan sulit keluar menembus lapis atmosfer bebas," pungkas Herizal. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: