Indonesia - Jepang Kerjasama Konservasi Karbon Biru

TrubusNews
Binsar Marulitua
27 Juni 2019   12:30 WIB

Komentar
Indonesia - Jepang Kerjasama Konservasi Karbon Biru

Ekosistem pesisir, termasuk mangrove dikenal sebagai penyerap dan penyimpan karbon alami dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama disebut sebagai Karbon Biru atau Blue Carbon. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalokasikan anggaran 400 ribu hingga 900 ribu dolar AS tahun 2019 untuk mendukung ekosistem karbon biru dalam memitigasi perubahan iklim. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan kerjasama dengan Jepang yang berfokus pada ekosistem biru (blue carbon) dengan nama program Blue CARES. Program tersebut  bertujuan untuk menyusun suatu 'strategi karbon biru' sebagai skema yang efektif untuk meningkatkan upaya masyarakat dalam pelestarian ekosistem pesisir dan sekaligus berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global.

Perihal kerjasama tersebut dipaparkan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja membuka acara The Second Core-and-Network System Workshop of Satreps - BlueCARES Program, di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (25/6) lalu.

Baca Lainnya : Mangrove Tergerus, 4 Pulau Terluar Indonesia di Riau Terancam Hilang

Sjarief menjelaskan strategi ekosistem karbon biru akan dicapai melalui integrasi penelitian dalam bidang geokimia, ekologi, geomatika, modeling, dan sosial-ekonomi untuk mengetahui dinamika karbon biru pada sistem hulu-hilir. Selain itu kajian kuantifikasi jasa ekosistem (ecosystem services) juga dilaksanakan untuk mengetahui pemanfaatan ekosistem pesisir yang lestari.

"Pembentukan "Core-and-Network System" atau CNS adalah salah satu dari 5 output utama program SATREPS - BlueCARES. CNS ditargetkan sebagai suatu kemitraan nasional sukarela, namun sistematis dan terkoordinasi antara universitas dan lembaga-lembaga terkait yang memiliki visi masa depan yang berkelanjutan untuk lingkungan dan masyarakat pesisir Indonesia," Jelas Sjarief dalam keterangan tertulis, Kamis (27/6). 

Sjarief menjelaskan CNS juga dapat dipandang sebagai suatu jaringan kerja untuk melaksanakan berbagai penelitian, koordinasi, dan monitoring ekosistem pesisir, termasuk ekosistem karbon biru (mangrove dan lamun). 

Baca Lainnya : Lawan Perubahan Iklim, Iriana Jokowi Gerakan Ibu-ibu Tanam 1 Juta Mangrove

CNS akan diatur dan diimplementasikan pada lokasi-lokasi program SATREPS-BlueCARES menggunakan sistem 'cluster' yang terdiri dari universitas, lembaga riset, lembaga swadaya masyarakat, maupun pemerintah daerah.

Ruang lingkup substansi dalam CNS cukup luas,  mencakup biofisik, ilmu sosial, dan ekonomi yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah fisik dan sosial ekonomi yang terkait dengan ekosistem dan masyarakat pesisir.

"Pertemuan ini pada prinsipnya dirancang untuk melanjutkan lokakarya CNS pertama yang diselenggarakan pada bulan November tahun lalu, yaitu untuk meningkatkan kapasitas riset, pemantauan ekosistem pesisir dan kemitraan penelitian di antara lembaga-lembaga di Indonesia," ucap Kepala BRSDM Sjarief Widjaja.

BlueCARES adalah program kolaborasi antara Indonesia dan Jepang dalam aspek blue carbon yang dilaksanakan sejak 2017-2022.

Baca Lainnya : Demi Ekosistem Alam, Balai TNKT Ajak Warga Lestarikan Hutan Mangrove

Salah satu output utama BlueCARES adalah pengembangan laboratorium blue carbon yang berlokasi di Instalasi Teknologi Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta.

Target lokasi program BlueCARES adalah Coral Triangle, yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: