Protes Harga Ayam Anjlok, Peternak di Yogya dan Solo Akan Bagikan Ribuan Ayam Gratis

TrubusNews
Syahroni
25 Juni 2019   23:00 WIB

Komentar
Protes Harga Ayam Anjlok, Peternak di Yogya dan Solo Akan Bagikan Ribuan Ayam Gratis

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/ Ridwan Syamsu)

Trubus.id -- Anjloknya harga ayam sejak September 2018 silam membuat peternak di beberapa wilayah menderita kerugian yang cukup besar. Hal yang sama juga dirasakan para peternak ayam di Yogyakarta dan Solo. 

Puncaknya, Rabu (26/6) besok, mereka akan menggelar aksi membagikan ayam gratis sebagai bentuk protes mareka.

Di Yogyakarta, para peternak ayam dari Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) bakal membagikan tak kurang 5.800 ekor ayam hidup kepada warga Yogya di berbagai titik kota. Aksi ini akan melibatkan 80-100 peternak ayam di seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta. 

"Awalnya untuk aksi ini kami kumpulkan beberapa peternak dan dapat 2500 ekor ayam. Kemudian bertambah terus sampai malam ini total 5.800 ekor ayam akan kami bagikan ke masyarakat," ujar Ketua Apayo, Hari Wibowo dilansir dari Tempo, Senin (24/6) kemarin. 

Baca Lainnya : Minimalisir Kerugian, Kemendag Siapkan Skema Penyerapan Ayam Hidup dari Peternak

Sama halnya dengan di Yogyakarta, sebanyak 10.000 ekor ayam hidup juga akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat di lima kecamatan di Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/6) besok.

Patut diketahui, sejak September 2018-Juni 2019, harga ayam selalu di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP). Harga ayam hidup Rp18.700 per kilogram atau karkasnnya mencapai HPP Rp30 ribu per kilogram.

Sementara itu harga daging ayam di pasar selalu di atas HPP yakni Rp29-30 ribu per kilogram. Padahal para pedagang sendiri hanya membeli dari peternak dengan harga Rp7-8 ribu per kilogram dengan alasan over supply.

Timpangnya harga kulakan pedagang dengan harga pasaran ini yang membuat peternak resah. Idealnya dengan harga pasaran Rp30 ribu per kilogram itu, harga beli ke peternak bisa separonya lebih, atau sekitar Rp18-20 ribu per kilogram. 

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mendesak pemerintah bertindak lebih konkret. Menurut Pinsar, kebijakan di hilir itu tidak akan berjalan, jika kondisi dan kebijakan di hulu tidak dibenahi secara serius.

"Sebenarnya sekarang sudah ada yang mengurangi, tapi tidak semua. Semestinya ada peraturan menteri yang mendasari kebijakan itu supaya lebih efektif. Kalau seperti ini cuma memberi harapan palsu saja," ujarnya dilansir dari Tribunnews, Selasa (25/6).

Baca Lainnya : Harga Ayam Hidup Anjlok, Kemendag Gelar Pertemuan dengan Perwakilan Peternak

Singgih mengakui, Kementerian Pertanian pun sudah mengambil sikap dengan mengeluarkan instruksi untuk memangkas jumlah anak ayam (day old chicken/DOC) selama periode 24 Juni hingga 23 Juli mendatang. Pada masa tersebut, Kementan meminta pelaku usaha menarik 30 persen telur yang siap menetas.

Namun, Singgih mengatakan, sejak efektif per 24 Juni lalu, kebijakan yang dikeluarkan Kementan belum direalisasikan di lapangan. Menurutnya aturan yang diterbitkan tidak memiliki payung hukum yang kuat sehingga hanya dianggap angin lalu oleh para produsen DOC.

"Masyarakat sebagai konsumen akhirnya juga ikut dirugikan karena membeli dengan harga tinggi," tuturnya.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi mengatakan, anjloknya harga ayam di tingkat peternak telah menyebabkan kerugian besar, bahkan tidak sedikit peternak rakyat yang gulung tikar.

Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk segera mencarikan solusi atas permasalahan tersebut.

"(Anjloknya harga ayam) Bukan hanya mengancam, tapi sudah buat mereka gulung tikar kok. Pada sakit secara fisik para peternak, stes mikirin utang ratusan juta kerugiannya," ujarnya. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Memberamo Tengah Papua

Peristiwa   23 Okt 2019 - 07:43 WIB
Bagikan: