Volume Ekspor Perikanan Sulsel Meroket 602 Persen, Rumput Laut Penyumbang Terbesar

TrubusNews
Binsar Marulitua
21 Juni 2019   14:00 WIB

Komentar
Volume Ekspor Perikanan Sulsel Meroket 602 Persen, Rumput Laut Penyumbang Terbesar

Ilustrasi petani rumput laut (Foto : Dokumentasi KKP)

Trubus.id -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, volume ekspor hasil perikanan asal Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Mei 2019 mengalami peningkatan sebesar 602,8 persen dibandingkan peride yang sama pada tahun sebelumnya. 

Berdasarkan data Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Makassar, pada periode Mei 2019, volume ekspor  tercatat sebesar 15.089 ton dengan nilai mencapai Rp444,1 miliar.  Sedangkan catatan pada periode yang sama di tahun 2018 yang hanya sebesar 2.147 ton. 

"Ekspor perikanan Sulsel periode Mei 2019 masih didominasi oleh komoditi rumput laut yang mencapai 83 persen, disusul oleh komoditi karaginan sebesar 4 persen," jelas Kepala Balai Besar KIPM Makassar, Sitti Chadidjah, Kamis (20/6) kemarin  dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (21/6/2019). 

 

Sitti menjelaskan,  peningkatan ekspor rumput laut yang berpengaruh pada peningkatan ekspor komoditas perikanan secara umum ini terjadi karena pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Permen KP Nomor 50 Tahun 2017 tentang Jenis Komoditas Wajib Periksa Karantina Ikan, Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan. Dengan pemberlakuan ini menurutnya, pencatatan ekspor rumput laut di Balai Besar KIPM Makassar meningkat signifikan. 

Adapun negara tujuan utama ekspor rumput laut Sulsel adalah Tiongkok, sedangkan untuk produk turunannya berupa karaginan diekspor ke Tiongkok dan Amerika Serikat.

Selain rumput laut dan karaginan, ekspor komoditi perikanan Sulsel juga turut diramaikan komoditi udang vannamei, tuna, dan tenggiri yang berturut-turut sebesar 3 persen, 2 persen, dan 1 persen. 

Namun Sitti mengakui, terjadi penurunan pada ekspor komoditi lobster, kepiting, dan rajungan. Ia berpendapat, hal ini terjadi karena kenaikan biaya logistik. 

"Jika melihat data ekspor lobster, kepiting, dan rajungan yang melalui Balai Besar KIPM Makassar, terlihat bahwa tidak ada ekspor lobster pada tahun 2018 dan 2019. Untuk komoditi kepiting dan rajungan terlihat bahwa volume ekspor tahun 2019 menurun bila dibandingkan dengan volume ekspor tahun 2018. Hal ini ditenggarai karena kenaikan biaya logistik," ujar Sitti. 

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rina menyebut, guna meningkatkan ekspor produk lobster, kepiting, dan rajungan ini, pemerintah terus berupaya mencegah berbagai tindakan eksploitasi. Salah satunya dengan dikeluarkannya Permen KP Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari wilayah Republik Indonesia. 

Dengan aturan tersebut, ketiga komoditi tersebut tidak diperbolehkan ditangkap dalam keadaan bertelur dan di bawah ukuran yang ditentukan (undersize).

"Semua UPT BKIPM di berbagai daerah terus melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas ketiga komoditi ini karena ketiganya merupakan komoditi perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan rawan diselundupkan. Jika dibiarkan, keberlanjutannya stok di alam akan terancam," jelas Rina. 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

KKP Hentikan Sementara SPWP Ekspor Benih Bening Lobster

Peristiwa   26 Nov 2020 - 17:29 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: