Produksi Kakao Stagnan, Dua Hal Ini Bisa Jadi Solusi

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Juni 2019   06:00 WIB

Komentar
Produksi Kakao Stagnan, Dua Hal Ini Bisa Jadi Solusi

Ilustrasi tanaman kakao (Foto : Kementerian BUMN)

Trubus.id -- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengemukakan perlu terobosan besar untuk mendongkrak kembali produksi kakao Indonesia yang stagnan. Solusinya adalah melakukan proses fermentasi biji kakao dan jalan mendapatkan jaminan atas akses pasar. 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Mercyta Jorsvinna Glorya mengatakan, petani lokal membutuhkan pendampingan lapangan dan informasi berdasarkan riset mengenai benih apa yang bagus untuk ditanam. Hal ini dilakukan agar petani-petani tersebut boleh mendapatkan sertifikasi internasional (UTZ & USDA Organic).

Baca Lainnya : Produksi Kakao Stagnan, Dua Hal Ini Bisa Jadi Solusi

"Sertifikasi inilah yang akan menjamin bahwa produk petani-petani kakao memiliki kualitas yang tinggi dan bisa dilirik pembeli besar skala internasional," jelas Mercyta Jorsvinna di Jakarta.

Sementara itu, selain memastikan kualitas produk kakao petani sudah memenuhi standar internasional, mereka juga membutuhkan jaminan akan adanya akses pasar. Praktek yang dilakukan beberapa lembaga non pemerintah terhadap petani kakao dapat dijadikan evaluasi, seperti turun langsung untuk mencarikan pembeli bagi para petani.

“Program kerja sama dengan lembaga-lembaga perbankan yang bersedia memberikan pinjaman kepada petani-petani kakao untuk membeli kebutuhan-kebutuhan bertani seperti pupuk, pestisida dan masih banyak lagi juga sangat dibutuhkan,” tambah Mercyta.

Tanaman kakao adalah tanaman yang memiliki biaya produksi tinggi. Untuk menanam kakao pada satu hektar luas lahan, dibutuhkan 500kg pupuk dengan harga sekitar Rp5.600.000, 5 liter pestisida yang harganya mencapai Rp1.400.000 dan biaya-biaya tambahan lainnya seperti bantuan  buruh tani, alat-alat menggunting dan menanam, yang kira-kira membutuhkan dana sebesar Rp1.960.000. 

Baca Lainnya : Koperasi Kakao Bali Berhasil Tembus Pasar Eropa dan Asia

Selain itu, kebanyakan yang selama ini terjadi adalah petani kakao Indonesia kerap menjual hasil produksi mereka secara “asalan”, mengingat mereka tahu persis kualitas dari biji kakao olahannya sangat rendah, diakibatkan kurangnya pemeliharan tanaman yang mereka lakukan.

Data dari Food and Agriculture Association (FAO) menunjukan bahwa pada tahun 2013, Indonesia memproduksi, secara kesuluruhan 729.000 ton/tahun, dimana kala itu, Pantai Gading sebagai produsen terbesar kakao dunia mencapai angka produksi sebesar 1.448.992 ton/tahun dan diikuti oleh Ghana dengan angka produksi 835.466 ton/tahun.

Dibandingkan dengan Pantai Gading, Indonesia hanya mampu memproduksi setengah dari total produksi negara penghasil kakao terbesar dunia tersebut.

Baca Lainnya : Kakao Menjadi Kekuatan Ekspor Komoditas Unggulan Pertanian Indonesia

Setelah empat tahun berlalu, produksi kakao yang diharapkan meningkat justru menunjukan fakta sebaliknya. Data terakhir dari FAO menunjukan bahwa pada tahun 2017, Pantai Gading mencapai total produksi sebesar 2.034.000 ton/tahun, disusul dengan Ghana di angka 883.652 ton/tahun, dan Indonesia di angka produksi 659.776 ton/tahun.

Data dari FAO ini-pun masih ditentang keabsahannya, karena menurut data Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), di tahun 2017 total produksi kakao Indonesia hanya mencapai 315.000 ton/tahun. Jumlah ini menurun dari total produksi 2013, yang dilansir ASKINDO hanya mencapai angka 450.000 ton/tahun. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: