Mengotori Candi, Penerbangan Lampion di Borobudur Dievaluasi

TrubusNews
Thomas Aquinus
15 Juni 2019   10:00 WIB

Komentar
Mengotori Candi, Penerbangan Lampion di Borobudur Dievaluasi

Ilustrasi penerbangan lampion di Candi Borobudur (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kepala Balai Konservasi Borobudur Tri Hartono mengungkapkan, penerbangan lampion di kawasan Candi Borobudur pada momentum tertentu kerap kali mengotori dan perlu dievaluasi karena sebagian lampion jatuh di bangunan candi dan ada yang menyangkut di jaringan listrik.

"Lampion yang jatuh ke bangunan candi tentu mengotori dan yang menyangkut di jaringan listrik bisa mematikan aliran listrik," ujarnya, Jumat (14/6).

Tri mengakui, kejadian tersebut tidak hanya sekali, namun sudah berulang kali dan bahkan tahun lalu ada yang mengakibatkan rumah terbakar.

Selain dirinya, Tri mengatakan bahwa PT PLN juga mengajukan surat keberatan atas penerbangan lampion tersebut.

Baca Lainnya : Pemprov Jawa Tengah Tawarkan Paket Wisata Candi Borobudur ke Turis Jepang

"Kami akan menyampaikan catatan ke Jakarta, karena yang memberikan izin Jakarta. Kami tidak bisa apa-apa, kami memberi masukan/catatan bahwa ke depan mestinya penerbangan lampion untuk diperhatikan, aspek manfaat dan keburukannya banyak yang mana," ujarnya.

Tri meyampaikan, lampion yang jatuh ke candi jelas mengotori dan berbahaya. Hanya secara kebetulan yang kejatuhan adalah batu, berbeda jika jatuh pada kayu yang bisa terbakar.

Sebelumnya, selama ini dalam perayaan Waisak dan menyambut Tahun Baru biasanya diterbangkan lampion. Namun untuk menyambut Tahun Baru 2019 penerbangan lampion diganti menerbangkan balon dengan lampu LED.

Baca Lainnya : Wisata Keliling Borobudur Kini Bisa Pakai Mobil Listrik

Tri menyampaikan Candi Borobudur merupakan bangunan suci. Jika dikotori oleh yang melakukan dengan memanfaatkan itu sendiri maka ini suatu hal yang sangat kontradiksi. Oleh sebab itu pihaknya juga akan menyampaikan permasalahan tersebut ke Walubi.

Tri mengatakan, sebenarnya dalam relief yang ada di Candi Borobudur tidak ada gambar lampionnya. Hal ini menunjukkan bahwa menerbangkan lampion itu bukan tradisi zaman dulu melainkan tradisi zaman sekarang.

"Setelah sekian tahun kalau tidak menguntungkan mestinya harus diubah, maka kami akan sampaikan rekomendasi ke Dirjen Kebudayaan. Saya berharap mestinya tahun depan kalau ada permintaan penerbangan lampion untuk dipertimbangkan," ujarnya.

Tri menjelaskan, rekomendasi tersebut akan dilengkapi dengan data foto pada bangunan candi yang kejatuhan lampion, kemudian foto-foto lampion yang menyangkut di jaringan listrik, dan surat teguran dari PLN. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: