Sebab Gempa Tektonik di Selatan Cilacap dan Bali Terungkap, Begini  Catatan Sejarahnya

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
10 Juni 2019   00:30

Komentar
Sebab Gempa Tektonik di Selatan Cilacap dan Bali Terungkap, Begini  Catatan Sejarahnya

Hasil Deteksi Gempa Cilacap dan Bali (Foto : BMKG/Daryono)

Trubus.id -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadinya dua gempa bumi tektonik di Samudra Hindia bagian Selatan pada Minggu (9/6/2019) sore, hanya dalam selang waktu 15 menit. Dua gempa tersebut terjadi di Samudra Hindia selatan Cilacap dan Selatan Bali dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.  

Gempa pertama terjadi pukul 16.32 WIB, Minggu (9/6/2019) di Samudra Hindia selatan Cilacap. Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa ini berkekuatan M 5,7.
Kekuatan gempa selanjutnya dimutakhirkan menjadi M 5,5.

"Episenter terletak pada koordinat 8,68 LS dan 108,82 BT tepatnya di laut pada jarak 107 km arah selatan Kota Cilacap, pada kedalaman 64 km," jelas Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangan tertulis. 

Daryono menjelaskan dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenternya, tampak gempa ini merupakan gempa menengah akibat deformasi batuan pada Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Lempang Eurasia di selatan Cilacap. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan penyesaran naik (thrust fault)

Guncangan gempa ini dirasakan di Pangandaran, Cilacap, Ciamis, Kebumen dalam skala intensitas III MMI dan Bandung dalam skala intensitas II MMI. 

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan namun demikian gempa ini membuat banyak warga panik dan berlarian ke luar rumah. Patut disyukuri bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami," ungkapnya. 

Ia menambahkan, wilayah selatan Cilacap dan Pangandaran merupakan kawasan seismik aktif yang memiliki potensi gempa kuat. 

BMKG mencatat belum lama ini juga terjadi gempa signifikan di Cilacap yaitu pada 18 Mei 2019 dengan kekuatan M 5,6. Gempa ini mengguncang Pangandaran, Kebumen, Tasikmalaya, Cilacap, Banyumas, Karangkates, Blitar, Tulungagung hingga Kediri dalam skala intensitas II-III MMI.

Catatan katalog BMKG sejak tahun 1940 menunjukkan di zona ini sudah terjadi gempa kuat sebanyak 6 kali, yaitu pada 21 Maret 1940 (M 6,3), 7 September 1974 (M 6, 5). Kemudian 24 Juli 1979 (M 6,9), Tsunami merusak 17 Juli 2006 (M 7,7), 3 Maret 2011 (M 6,7), dan 13 Juni 2013 (M 6,7).

"Dengan memperhatikan tingginya potensi gempa di wilayah ini maka penting untuk terus menggalakkan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami," ujar Daryono.

Setelah gempa Cilacap hari ini, tutur Daryono, Samudra Hindia selatan Bali juga diguncang gempa tektonik berkekuatan M 5,1. Episenter terletak pada koordinat 11,75 LS dan 115,64 BT tepatnya dilaut pada jarak 344 km arah selatan Denpasar dengan kedalaman 10 km. 

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu penyesaran dengan pergerakan turun (normal fault) sementara pemodelan menunjukkan tidak berpotensi tsunami," terang Daryono.

Daryono mengatakan, gempa di selatan Bali ini berpusat di Zona Outer Rise bila dilihat dari lokasi episenter dan hiposeternya. 

"Peristiwa gempa ini memberi petunjuk kepada kita akan aktifnya zona sumber gempa di luar zona subduksi selatan Bali sebagaimana Zona Outer Rise selatan Sumbawa," kata dia.

Zona Outer Rise Sumbawa dijelaskan Daryono pernah memicu gempa berkekuatan M 8,3 dan membangkitkan tsunami setinggi 8 meter pada 19 Agustus 1977 hingga menelan korban jiwa sebanyak 198 orang tewas dan hilang di pantai selatan Sumbawa. 

Hingga saat ini hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa selatan Cilacap dan selatan Bali menunjukkan belum ada aktivitas gempa susulan (aftershock).

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: