Tangani Penyebaran Cacar Monyet, Menkes Jalin Kerja Sama dengan Singapura

TrubusNews
Syahroni
29 Mei 2019   21:30 WIB

Komentar
Tangani Penyebaran Cacar Monyet, Menkes Jalin Kerja Sama dengan Singapura

Kerja sama Kemenkes RI dan Singapura di bidang pengendalian penyakit. (Foto : Doc/ Kemenkes RI)

Trubus.id -- Laporan temuan kasus manusia yang terjangkit penyakit cacar monyet atau monkeypox di Singapura membuat pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya yang telah dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan adalah dengan menjalin kerja sama penanganan penyakit menular dan tidak menular.

''Memang sekarang kita agak sulit ya, dalam arti mobilisasi manusia ini kan cepat sekali. Jadi memang wara-wiri ini banyak sekali. Terakhir seperti cacar monyet yang kita takutkan, kami sudah ketemu dengan menteri kesehatan Singapura kebetulan kita lagi bikin MoU sama Singapura, saya juga nanyain tentang (cacar monyet),'' kata Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek dalam siaran persnya belum lama ini.

Baca Lainnya : Kementerian Kesehatan Minta Dinas Kesehatan dan UPT Siaga Cacar Monyet

Menkes menjelaskan penanganan monkeypox di Singapura bagus sekali. Orang yang terkena monkeypox diisolasi dan orang-orang yang ada riwayat kontak dengan pasien diawasi.

''Saya ingatkan karena cacar monyet ini asalnya dari monyet, tolong hati-hati juga. Karena penyakit menular ini dari binatang cukup banyak, dari 10 penyakit infeksi, ada 6 dari binatang. Jadi saya minta hati-hati juga ya,'' ucapnya.

Baca Lainnya : Cegah Cacar Monyet Masuk Indonesia, Pemeriksaan Kesehatan di Bandara Diperketat

Perjanjian kerja sama dalam penanganan penyakit menular dan tidak menular itu dilakukan pada Rabu (22/5) lalu di Jenewa pada sidah World Health Agenda ke-72. Pada kesempatan tersebut dibahas tentang pengendalian penyakit monkeypox yang sempat menjadi bahan pembicaraan dan kecemasan di berbagai dunia khususnya juga di Indonesia.

Menteri Kesehatan Singapura menyampaikan bahwa kasus ini memang sudah ditangani secara maksimal. Satu penderita asal Nigeria dan 23 orang yang kontak dengan penderita sudah keluar dari sistem kekarantinaan dan dan sudah diperbolehkan untuk pulang melakukan aktivitas sehari-hari bersama dengan masyarakat Singapura yang lain karena sudah tidak ditemukan gejala dan tanda. Hasil laboratoriumnya juga baik. [RN]
 

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: