Gunakan Bioprospecting Mikroba, 7 Desa di Gunung Ciremai Alami Kenaikan Pertanian 30 Persen

TrubusNews
Binsar Marulitua
27 Mei 2019   22:30 WIB

Komentar
Gunakan Bioprospecting Mikroba,  7 Desa di Gunung Ciremai Alami Kenaikan Pertanian 30 Persen

Aktivitas Peneliti mengambil sampel yang dikumpulkan dari tanah, akar-akaran, dan daun dari berbagai tanaman di kawasan TNGC untuk mendapatkan mikroba berguna. (Foto : Dokumentasi KLHK)

Trubus.id --  Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah mengembangkan bioprospecting mikroba yang berguna  meningkatkan produktivitas pertanian sehat tanpa pupuk kimia dan pestisida. 

Dari 54 Desa penyangga di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut, 7 desa telah merasakan pemanfaatan pengembangan bioprospecting mikroba dengan peningkatan produksi sekitar 30 persen.

Ketujuh desa tersebut adalah Desa Bendorasa Kulon, Bandirasa Wetan, Bantar Agung, Arga Lingga, Sagarahyiang, Cilimus, Talagakulon, Panawuan.

"Rata-rata petani yang menanam ubi jalar, cabe, tomat, bawang daun, jagung, padi dengan peningkatan  peningktan produksi 30 persen setelah mengurangi pestisida 100 persen. Harapannya 54 desa bebas peptisida 100 persen walaupun pengurang pupuk kimia saat ini baru 25 persen," jelas peneliti Dr. Suryo Wiyono dari Laboratorium Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (27/5/2019). 

Suryo menjelaskan  melibatkan 37 sampel yang dikumpulkan dari tanah, akar-akaran, dan daun dari berbagai tanaman di kawasan TNGC untuk mendapatkan mikroba berguna. Berdasarkan hasil isolasi, uji hemolysis, dan uji hipersensitif, menghasilkan tiga kelompok mikrob yang berguna bagi tanaman.

Pertama, cendawan patogen serangga hama, khususnya kelompok wereng dan kutu-kutuan, yaitu cendawan Hirsutella sp dan Lecanicillium sp.

"Hasil eksplorasi juga menemukan isolat bakteri pemacu pertumbuhan (Plant Growth Promoting Rhizobacteria/PGPR) yaitu C71 yang mampu meningkatkan panjang akar bibit tomat 42.35 %, dan meningkatan daya kecambah sebesar 178 %. PGPR tersebut juga mampu membuat tomat lebih tahan penyakit bercak daun," jelasnya

Ia melanjutkan penjelasan, bahwa dalam penelitiannya juga menghasilkan bakteri yang paling efektif dalam menekan dampak frost bagi tanaman, yaitu PGMJ 1 (asal Kemlandingan Gunung), dan A1 (asal Anggrek Vanda sp.), keduanya dengan tingkat keefektifan 66.67%.

Fakta di lapangan juga menunjukan bahwa mikrob bermanfaat (PGPR) dari dalam kawasan TNGC terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan, dan menyehatkan tanaman. Termasuk pada tanaman pemulihan ekosistem, terbukti mempercepat pertumbuhan tinggi tanaman hutan hanya dalam kurun waktu 5 bulan.

Sebagai tindaklanjut dari penelitian tersebut, Balai TNGC dan Fakultas Pertanian IPB dengan melibatkan para pihak terkait akan menyusun roadmap yang memuat tahapan karakterisasi molekuler, pengujian dan implementasi lapangan dalam skala yang lebih luas.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosisitem (KSDAE), Wiratno, menuturkan, hasil tersebut menandakan kawasan hutan konservasi memiliki nilai sumberdaya biologi yang sangat penting dalam menunjang kegiatan budidaya masyarakat sekitar.

“Temuan ini merupakan bukti bahwa betapa pentingnya kawasan konservasi, bukan hanya kaitannya dengan perubahan iklim, habitat satwa liar, air, dan wisata alam itu sudah biasa, sedangkan penemuan ini merupakan hal yang luar biasa,” ujar Wiratno.

Wiratno juga mengungkapkan kegiatan eksplorasi, dan pemanfaatan mikroba berguna asal taman nasional, bisa menjadi model kontribusi taman nasional, sebagai solusi memecahkan masalah pertanian pegunungan dan perubahan iklim. 

"Saat ini, mikrob berguna asal TNGC tersebut sedang diteliti lanjut untuk mengkaji pengaruhnya pada berbagai tanaman dan dasar fisiologinya," tambahnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Desa di Kota Batu Terdampak Angin Kencang

Peristiwa   17 Nov 2019 - 17:06 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: