Tim Ekspedisi Petakan Pohon Bermasalah di Aliran Sungai Cikeas

TrubusNews
Syahroni
25 Mei 2019   11:00 WIB

Komentar
Tim Ekspedisi Petakan Pohon Bermasalah di Aliran Sungai Cikeas

Sampah bambu penyebab banjir memenuhi Bendung Koja. (Foto : Doc/ KP2C)

Trubus.id -- Sebuah tim ekspedisi yang beranggotakan 10 orang, menyusuri sungai Cikeas sebagai salah satu upaya memetakan dan menghalau banjir yang kerap melanda 6 perumahan di hulu Bendung Koja. Ekspedisi yang berlangsung Rabu (22/5) lalu ini bergerak di bawah koordinasi langsung Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman.

Anggotanya utusan dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWS CilCis), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Bekasi, dan pengurus KP2C. 

Ekspedisi sendiri dimulai dengan menyusuri sungai CIkeas dari Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor menuju pertemuan Cileungsi-Cikeas (P2C) di Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, menjelang kali Bekasi, di Kota Bekasi. Ekspedisi ini bertujuan untuk memetakan pohon bermasalah yang menghambat aliran sungai Cikeas. 

Sungai Cikeas memang tidak sebesar sungai Cileungsi, di mana kedua sungai ini menyatu di P2C untuk kemudian memasuki kali Bekasi. Bila sungai Cileungsi luasnya mencapai 26.000 ha, sungai Cikeas sendiri hanya 11.300 ha. 

Baca Lainnya : Luapan Sungai Cikeas Rendam Sejumlah Wilayah di Kabupaten Bogor Hingga Bekasi

Melihat luas areanya, sungai Cikeas memang tidak begitu memiliki potensi meluap dan membanjiri kawasan di sepanjang bantaran sungai. Namun belakangan sungai ini memunculkan persoalan ketika ribuan kubik sampah bambu tertahan di badan sungai. Akibatnya aliran sungai terhambat. Kini sungai Cikeas menjadi ancaman baru karena berpotensi menimbulkan ancaman banjir. 

Data KP2C menunjukkan sejak Oktober 2018 hingga kini sudah terjadi 12 kali penyumbatan di badan sungai Cikeas akibat bertumpuknya sampah bambu, khususnya di Bendung Koja yang terletak di Kelurahan Jatiasih, Kecamatan Jatiasih. Akibatnya, enam perumahan di hulu Koja sempat dilanda banjir. 

Saat tim ekspedisi menyusuri sungai, banyak ditemukan lokasi yang bisa menjadi titik tersangkutnya sampah bambu yang akan menyumbat aliran sungai. Juga ditemukan begitu banyak bambu doyong ke badan sungai yang bila air sungai meninggi akan menghambat aliran sungai. Kondisi ini diperparah dengan adanya pohon-pohon besar yang tumbuh di badan sungai ataupun gundukan tanah yang menjorok ke tengah sungai. 

Perjalanan tim juga sempat terhambat oleh tumpukan sampah bambu yang benar-benar menutupi lebar badan sungai. Kondisi ini ditemui di dua titik di sekitar wilayah Kelurahan Jatiluhur, Kecamatan Jatiasih. Alhasil, dua rekan Pasukan Katak harus turun dari perahu untuk menghalau sampah agar perahu dapat melaju kembali. 

Baca Lainnya : Bikin Sungai Cikeas Meluap, KP2C dan DLH Kota Bekasi Bersihkan Bendung Koja

"Namun kami harus benar-benar menyudahi ekspedisi ini ketika pada kali ketiga, selepas Bendung Koja, kami terhambat tumpukan sampah yang menggunung dan kalau dihalau membutuhkan waktu lebih dari 1 jam," ujar Ketua KP2C, Puarman. 

Tim pun batal menuju lokasi finish di P2C dan dipaksa kembali ke Bendung Koja dengan melawan derasnya arus dari air yang tumpah meluncur dari Bendung Koja dengan ketinggian sekitar 5 meter. Satu perahu terpaksa harus berputar lima kali sebelum kembali mencapai bibir bendung karena sulitnya kontur badan sungai yang tak rata. Ada yang dalam dan ada pula yang dangkal. 

Selepas semua tim ekspedisi sungai dan tim darat bergabung kembali, dalam sebuah rapat kecil di lapangan, diputuskan sebuah solusi jangka pendek. Yakni, pemotongan tiga pohon besar yang berada di badan sungai. Untuk hal ini BMSDA Kota Bekasi akan berkoordinasi dengan DLH Kota Bekasi.

Keputusan berikutnya, sebagai mana sebelumnya sudah disepakati dalam rapat di BBWS CilCis, sampah bambu yang tersangkut di Bendung Koja akan digelontorkan menuju kali Bekasi. Sampah tersebut akan ditahan di titik tertentu di kali Bekasi sehingga memungkinkan ditangani dengan alat berat. 

Baca Lainnya : Gunungan Sampah Bambu di Bendung Koja, Penyebab Meluapnya Sungai Cikeas

Untuk solusi jangka menengah, dalam rapat di BBWS dan disinggung kembali dalam rapat usai susur sungai, bahwa  akan diadakan rapat teknis kembali dengan menyertakan komponen/instansi terkait dari wilayah Bogor dan Depok. Pasalnya, sumber sampah bambu sebesar 50 persen berasal dari kawasan Bogor dan 25 persen dari Depok. Selebihnya dari Bekasi. 

Oleh petugas BMSDA Kota Bekasi diinformasikan tentang keberadaan 'polder' Koja yang persis berada di sisi Bendung Koja. Polder ini memiliki daya tampung air sekitar 80.000 meter kubik, kemungkinan baru akan beroperasi pada 2020, menunggu cukupnya pembiayaan. 

Polder yang dibangun pada 2016 sementara ini hanya berfungsi sebagai penampung air hujan. Rencananya akan dibuat "inlet" dan "outlet" untuk mengalirkan air sungai ke dalam polder sebelum kembali di lepas ke badan sungai Cikeas.

"Hal yang seharusnya juga dibangun (polder) untuk sungai Cileungsi, selain normalisasi yang akan  segera dimulai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama Pemkot Bekasi di kali Bekasi," ujar Puarman. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: