Hadang Kerusakan Meluas, MERA Restorasi Mangrove di Pesisir Jakarta

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
25 Mei 2019   06:00

Komentar
Hadang  Kerusakan Meluas, MERA Restorasi  Mangrove di Pesisir Jakarta

Ilustrasi Mangrove (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia dikenal sebagai negara dengan hutan mangrove terbesar di dunia dengan luasan mencapai 3,556 juta hektare sampai tahun 2019. Tetapi, cukup memprihatinkan manakala 33,55 persen atau 1,193 juta lahan mangrove terpantau dalam kondisi kritis.

Dalam tiga dekade terakhir, lebih dari 50% hutan mangrove di Indonesia hilang. Sebagian besar akibat konversi lahan untuk budidaya perikanan dan pembangunan. Hal ini juga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan mangrove tercepat di dunia. 

Upaya penyelamatan dan pemulihan fungsi ekosistem mangrove di berbagai lokasi di Indonesia terus didorong untuk menekan laju kerusakan. Salah satunya adalah program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) yang merupaka platform kerja sama yang digagas oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara, afiliasi dari The Nature Conservancy.

Saat ini, MERA bekerja sama dengan pihak pemerintah, khususnya KLHK  dan BKSDA untuk melindungi dan memulihkan kondisi lahan mangrove seperti sedia kala. MERA juga bermitra dengan sektor swasta, seperti Asia Pulp & Paper, Indofood Sukses Makmur, dan Chevron Pacific Indonesia untuk mengelola proyek restorasi mangrove. 

Salah satu fokus utama program MERA dalam waktu dekat adalah pemulihan kawasan mangrove di pesisir Jakarta. Saat ini, ada hanya sekitar 300 hektar hutan mangrove yang tersisa. Mereka berlokasi di kawasan Angke Kapuk, Jakarta Utara dengan sebanyak 25 hektar berada di dalam area Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). 

Kepala BKSDA Jakarta Ahmad Munawir menjelaskan bahwa pemerintah mengapresiasi program MERA yang benar-benar memberikan contoh bahwa dalam membangun sebuah rencana restorasi kawasan harus didasari analisa ilmiah yang kuat.

Saat ini MERA sedang dalam tahap menyelesaikan master plan pengelolaan kawasan, serta detail design enginering untuk pembangunan infrastruktur yang sesuai kaidah-kaidah konservasi.

Harapannya, setelah ini selesai, dapat segera memulai kegiatan restorasi ekosistemnya karena titik-titik yang akan direstorasi sudah dipetakan. 
Tahapan selanjutnya adalah penyelesaian rencana pemulihan ekosistem, persiapan pembangunan infrastruktur, dan menyiapkan modul-modul untuk pendidikan lingkungan hidup. 

"Dan dalam lima tahun ke depan, memastikan SMMA dapat digunakan sebagai pusat edukasi dan wisata terbatas dengan melakukan penguatan kelembagaan pengelola SMMA dan penyediaan mekanisme pendanaan berkelanjutan," jelas Ahmad Munawir, beberapa waktu lalu. 

Direktur Sustainability APP Sinar Mas Elim Sritaba menyambut baik progress yang telah berhasil dicapai dalam program ini. Elim Sritaba menambahkan, upaya perlindungan lingkungan hidup sejalan dengan Sustainability Roadmap Vision 2020 dari APP Sinar Mas.

"Kami berharap, program kemitraan dalam aliansi MERA ini, dapat mewujudkan cita-cita kita semua agar tercipta pengelolaan mangrove secara berkelanjutan dan terintegrasi ke depannya, sekaligus juga mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca”. jelasnya. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: