Sirkulasi di Papua Barat Menguat, Gelombang Tinggi Berlanjut Hingga 3 Hari ke Depan 

TrubusNews
Binsar Marulitua
23 Mei 2019   10:30 WIB

Komentar
Sirkulasi di Papua Barat Menguat, Gelombang Tinggi Berlanjut Hingga 3 Hari ke Depan 

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia dalam waktu empat hari kedepan terhitung 23 Mei - 26 Mei 2019.

Peningkatan gelombang tinggi terjadi menyusul adanya pola sirkulasi di Papua Barat. Pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya berembus dari Selatan – Barat dengan kecepatan 3 - 15 knot.  Sedangkan di wilayah selatan Indonesia umumnya angin berembus dari Timur – Selatan dengan kecepatan 3 - 25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di  Perairan Timur Kep. Wakatobi, Laut Banda, Perairan Kep. Letti - Kep. Tanimbar, Perairan Kep. Kei - Kep. Aru dan Laut Arafuru, serta Samudera Hindia barat Lampung hingga selatan NTB. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Baca Lainnya : Pelayaran Diimbau Waspadai Gelombang Tinggi hingga Jumat (24/5) Mendatang

Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk itu, BMKG selalu mengimbau pada masyarakat terutama nelayan yang beraktivitas dengan moda transportasi seperti perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m)

Selain itu imbauan juga ditujukan kepada kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m), kapal ferry (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m), dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m) untuk selalu waspada. 

Dari hasil pantauan BMKG, terdapat peningkatan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter yang berpeluang terjadi di beberapa perairan seperti Perairan Utara Sabang, Teluk Bone bagian selatan, Perairan Sabang – Banda Aceh, Laut Flores dan Laut Banda, Perairan Barat Aceh, Perairan Kep. Baubau – Kep. Wakatobi, Perairan Barat P. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Perairan Manui – Kendari, Samudera Hindia Barat Aceh hingga Kep. Nias, Teluk Tolo, Perairan Selatan P. Sumba – P. Sawu, Perairan Selatan Kep. Banggai hingga Kep. Sula, Perairan Selatan Flores, Perairan Selatan P. Buru – P. Seram, Selat Sumba dan Selat Sape bagian selatan, Perairan Utara Kep. Sermata – Kep. Tanimbar,  Perairan Kupang – P. Rotte, Laut Seram bagian timur, Laut Sawu dan Laut Timor selatan NTT, Perairan Utara Kep. Kei – Kep. Aru, Selat Karimata bagian selatan, Perairan Selatan Kaimana – Amamapre, Perairan Utara Jawa Timur hingga Kep Kangean, Laut Arafuru bagian timur, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Utara Kep. Talaud, Perairan Kotabaru, Perairan Utara Halmahera, Laut Jawa dan Laut Sumbawa bagian utara, Samudera Pasifik Utara Halmahera, Selat Makassar bagian tengah dan selatan, Perairan Utara P. Biak, Perairan Kep. Sabalana – Kep. Selayar, dan terakhir Samudera Pasifik utara Papua.

Baca Lainnya : Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Sampai Mei, Ini Sebaran Wilayahnya

Sementara itu, gelombang yang lebih tinggi kisaran 2,5 hingga 4 meter.  berpeluang terjadi di beberapa perairan Indonesia lainnya, di antaranya adalah Perairan Bengkulu – P. Enggano, Selat Bali – Lombok – Alas – Sape bagian selatan, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTT , Samudera Hindia barat Kep. Mentawai hingga Lampung, Perairan Selatan P. Jawa hingga P. Sumbawa, Perairan Selatan Kep. Sermata – Kep. Tanimbar, Selat Sunda bagian selatan, Perairan Selatan Kep. Kei, serta Laut Arafuru bagian barat dan tengah.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: