Optimalisasi Lahan Rawa Tersendat, Kementan Hadapi Sejumlah Kendala

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
22 Mei 2019   06:00

Komentar
Optimalisasi Lahan Rawa Tersendat, Kementan Hadapi Sejumlah Kendala

Ilustrasi lahan rawa (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus berusaha merealisasikan ektensifikasi sawah pada lahan rawa, meski sejumlah permasalahan masih menjadi momok. Hingga Mei 2019, program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Program Serasi) baru mencapai 30 ribu hektar dari target 500 ribu hektar.

"Tidak semudah seperti membalikan telapak tangan, mengapa mungkin realisasi kecil baru 30 ribu hektar. Saya yakin target tercapai untuk masing-masing provinsi " kata Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy di Jakarta, Selasa (21/5).

Sarwo Edhi menjelaskan, rendahnya angka realisasi optimalisasi disebabkan beberapa kendala seperti para calon petani/calon lahan (CPCL) kerap meminta ganti rugi saat lahannya difasilitasi oleh pemerintah. Hal ini menyebabkan, pemerintah beralih ke lahan rawa lain dan mencari CPCL lainnya.

Selain itu, faktor penghambat lainnya adalah, program Serasi baru dimulai pada 15 Maret 2019, terlambat dari rencana pada awal tahun ini.  Hal tersebut disebabkan  adanya revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) hingga 25 Februari lalu. Kemudian, pemerintah juga melakukan sosialisasi hingga 15 Maret.

Pada tahun 2019 ini, program Serasi ditargetkan terlaksana di Sumatera Selatan untuk lahan seluas 220 ribu hektare, Kalimantan Selatan 153,36 ribu hektare, dan Sulawesi Selatan seluas 33,5 ribu hektare. Di luar itu, program Serasi juga dialokasikan ke Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Riau.

"Desa yang tidak mau dikeruk lahannya untuk dibuat jaringan tersier maka akan dicoret dari jumlah target optimalisasi. Adanya penolakan berasal dari keinginan petani yang enggan sebagian lahannya terpotong jaringan irigasi. Sedangkan jaringan irigasi merupakan kunci realisasi sukses tidaknya program lahan rawa," tambahnya. 

Sarwo Edhi menjelaskan, biaya optimalisasi lahan rawa berjumlah Rp4,5 juta per hektare meliputi biaya rehabilitasi jaringan tersier, meninggikan tanggul, membuat pintu-pintu pompa air, serta pengadaan pompa. 

Sebelumnya, lahan rawa dinilai tak memiliki kontribusi untuk dunia pertanian. Namun, menurut instruksi Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk mengoptimalisasi potensi  lahan tersebut dalam mendukung  target Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. 

"Ini mudah-mudahan dengan pendampingan TNI dan pendekatan masyarakat lebih masuk dan lebih soft. Artinya petani bisa lebih menerima dan Alhamdulillah berjalan lancar jadi target optimis," jelasnya lagi.

Sepanjang 2018, Kementan telah menyaluran alat mesin pertanian (alsintan) sebanyak 112.525 guna mendorong optimalisasi lahan pertanian. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: