Tren Petani dan Konsumsi Sorgum Meningkat di Flores Timur, Ini Sebabnya 

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
21 Mei 2019   08:00

Komentar
Tren Petani dan Konsumsi Sorgum Meningkat di Flores Timur, Ini Sebabnya 

ilustrasi Sorgum (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) mengungkapkan bahwa terjadi tren peningkatan petani yang menanam dan mengonsumsi sorgum di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelumnya, penggalakan beras di era 80-an hanya menjadikan sorgum sebagai pakan ternak. 

"Pada awalnya mengajak masyarakat Flores Timur untuk kembali menanam sorgum cukup sulit, hanya sedikit petani yang mau menanam sorgum. Namun begitu melihat hasilnya yang baik, kini semakin banyak petani di sana yang tertarik menanam sorgum," jelas Direktur Kehati, Roni Megawanto di Jakarta, Senin (20/5). 

Roni menjelaskan, kecenderungan petani untuk menjual sorgum dari tanah yang digarap di Flores Timur cukup rendah. Hal tersebut disebabkan rata rata petani memilih untuk mengonsumsi sorgum yang ditanam. Meski demikian, belum semua petani bisa meninggalkan beras.  

Baca Lainnya : LIPI Gandeng Jepang, Teliti Sorgum untuk Biomassa

"Hasil tanaman mereka sekitar 60 persen akan dikonsumsi sendiri, sisanya baru di jual.  Meski begitu belum semua meninggalkan beras sepenuhnya." kata dia.

Roni mengungkapkan, sorgum memiliki segala potensi sebagai alternatif pengganti pangan baik dari segi ekonomis maupun kandungan gizi. Sorgum bisa diolah sebagai beras utuh, tepung, popcorn, bubur, roti dan masih banyak lagi.

Sorgum juga mempunyai kandungan nutrisi yang cukup lengkap dibandingkan dengan beras. Sorgum mengandung kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, zat besi, fosfor, dan vitamin B1.

Sorgum, juga kaya akan serat, antioksidan, bebas gluten, terlebih indeks glikemiknya lebih rendah dari pada beras sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Baca Lainnya : Resmikan Bendungan Rotiklot, Jokowi: Air Kunci Kemakmuran di NTT

"Indonesia sendiri adalah penderita diabetes lima besar di dunia," tambahnya. 

Selain itu, ditambahkan Roni, sorgum merupakan salah satu tanaman pangan yang tidak memerlukan perawatan yang rumit. Sorgum hanya membutuhkan air yang lebih sedikit dibandingkan padi. Kelebihan lainnya sorgum juga memiliki daya tahan yang baik terhadap iklim.

"Masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan gagal panen, karena sorgum sangat adaptif dan hanya membutuhkan biaya yang rendah untuk menanamnya. Tidak perlu di beri peptisida, dan bisa dipanen dalam jenjang waktu tiga bulan," ucapnya lagi. 

Roni mengatakan sejak 2014, Kehati telah melakukan pendampingan di Flores Timur  dalam bentuk budi daya dan pengolahan pascapanen dari pada menanam padi.

Baca Lainnya : Kembali Kunjungi NTT, Jokowi Resmikan Bendungan Rotiklot dan Tebar 200 Ribu Benih Ikan 

Tantangannya terberat adalah  mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa mengonsumsi beras sebagai makanan pokok ke jenis lain agar tak selalu ketergantungan impor.

"Ada enam jenis sorgum yang ditanam, yaitu sorgum manis batang tinggi warna merah, kuning, dan hitam. Selain itu, sorgum pendek jenis kuali dan numbu," tambahnya. 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: