Waspada! Takjil Mengandung Formalin Masih Ditemukan

TrubusNews
Astri Sofyanti
20 Mei 2019   19:00 WIB

Komentar
Waspada! Takjil Mengandung Formalin Masih Ditemukan

Kepala Badan POM Penny K.Lukito dalam jumpa pers di Jakarta terkait Pengawasan Pangan Selama Ramadan (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Berbagai jenis pangan jajanan berbuka puasa (takjil) banyak dijual di pinggir-pinggir jalan selama bulan Ramadan. Meski terlihat menggiurkan dan menggugah selera, masyarakat harus waspada dan cermat sebelum membeli takjil untuk menu buka puasa. Pasalnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) masih menemukan takjil yang mengandung bahan berbahaya mulai dari formalin, boraks, hingga pewarna berbahaya.

Seperti diketahui, makanan yang mengandung pewarna berbahaya, boraks, hingga formalin memiliki dampak negatif bagi tubuh jika dikonsumsi.

Dalam operasi dan pengawasan langsung ke lapangan, petugas Badan POM masih menemukan sejumlah panganan berbuka puasa yang mengandung bahan-bahan berbahaya.

Baca Lainnya : Selama Ramadan Badan POM Tingkatkan Pengawasan Terhadap Produk Pangan Berbuka Puasa

Dalam jumpa persnya di Jakarta, Senin (20/5), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny Lukito mengungkapkan sebagian besar temuan Badan POM terkait pangan jajanan berbuka puasa kebanyakan ditemukan di wilayah di Indonesia.

Lebih lanjut Penny menuturkan dari hasil intensifikasi BPOM terhadap bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan pada pangan yaitu formalin 39,29 persen, boraks (32,14 persen) dan rhodamin B (28,57 persen).

“Meski masih ditemukan, tapi presentasinya sudah menurun dibanding tahun lalu, artinya saat ini mayoritas pedagang takjil menjual makanan yang masih segar,” ucapnya kepada awak media.

Pihaknya membeberkan jumlah presentase itu diambil dari 2.804 sampel yang diperiksa oleh petugas BPOM di berbagai kota di Indonesia.

Baca Lainnya : Bulan Ramadan, Kementerian Pertanian Konsisten Pantau Pasokan dan Harga Telur Ayam

Sementara itu, diakui Penny, terdapat 83 sampel atau 2,96 persen pangan takjil tidak memenuhi syarat (TMS). TMS sendiri, dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu agar-agar, minuman berwarna, mie dan kudapan.

Pada pelaksanaan intensifikasi tahap III tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34 persen.

"Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan pemahaman pedagang takjil yang kebanyakan merupakan ibu rumah tangga terhadap keamanan pangan semakin meningkat," ucapnya lagi.

Dirinya mengungkapkan hal itu tidak terlepas dari upaya BPOM bersama kementerian dan lembaga terkait yang gencar melakukan sosialisasi serta komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat dan pelaku usaha. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: