Leptospirosis Rentan Serang Petani, Begini Cara Mencegahnya

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
15 Mei 2019   11:30

Komentar
Leptospirosis Rentan Serang Petani, Begini Cara Mencegahnya

Petani sedang membajak sawah (Foto : Pixabay)

Trubus.id -- Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. sejumlah hewan yang berisiko menjadi pembawa leptospirosis yaitu, tikus, anjing, hewan ternak seperti sapi atau babi. Bakteri Leptospira interrogans sendiri bisa bertahan hidup dalam ginjal hewan yang terinfeksi.

Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Sebagian besar masyarakat hanya mengetahui bahwa leptospirosis hanya akan menginfeksi seseorang yang terdampak banjir. 

Baca Lainnya : Meski Belum Ada Kasus, Pemkot Medan Bentengi Warganya dari Wabah Leptospirosis

Tapi ternyata leptospirosis juga bisa mengancam para petani di sawah. Hal tersebut lantaran sawah merupakan salah satu tempat kontaknya berbagai hewan pembawa bateri Leptospira interrogans.

Untuk menghindari petani tertular leptospirosis, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada warga khususnya petani untuk menjaga kebersihan sehingga bisa terhindar dari bakteri yang berasal dari kencing tikus tersebut.

Terlebih ketika petani usai panen, akan banyak tumpukan jerami di pemantang sawah, dan inilah yang menjadi tempat kencing tikus sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan petani.

Baca Lainnya : Dari 8 Wilayah Penyebaran Leptospirosis, Jateng Peringkat Pertama

“Setiap ada kesempatan kami terus melakukan imbauan kepada para petani untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sawah agar terhindari dari bakteri Leptospira interrogans,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Heru Saptono, di Yogyakarta Rabu (15/5) megutip Antaranews.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Dulzaini mengatakan hingga akhir April 2019 mencatat 12 kasus leptospirosis di Kabupaten Sleman.

“Satu dari 12 kasus yang menyerang petani menyebabkan satu orang petani meninggal dunia. kasus meninggal ini akibat pasien terlambat ditangani. Penderita sudah terpapar virus tapi tidak diperiksa, saat diperiksa kondisinya sudah parah sehingga mengakibatkan kematian,” kata Dulzaini.

Baca Lainnya : Waspada, Leptospirosis Berpotensi Merebak saat Genangan Banjir

Lebih lanjut Dulzaini mengatakan, para petani harus mewaspadai leprospirosis terlebih saat peralihan musim hujan ke usim kemarau.
Diakuinya, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup sehat dalam kesehariannya, sebab, bakteri leptospira interrogans yang menyebabkan penyakit leptospirosis ada di lingkungan persawahan maupun di lingkungan rumah.

"Kalau ke sawah usahakan saat sinar matahari sudah muncul. Gunakan sepatu boot. Cuci tangan dengan sabun setelah selesai beraktivitas. Untuk dirumah kalau banyak tikus bisa dibersihkan dengan disiram lisol ke titik yang sering dilewati tikus, itu bakterinya bisa mati," katanya.

Untuk itu, dirinya mengimbau masyarakat jika mengalami gejala demam, pusing, mual, nyeri otot terutama di daerah kaki agar segera memeriksakan ke puskesmas atau klinik terdekat.

“Karena bisa langsung dilakukan tes cepat leptospirosis. Setiap puskesmas di Sleman sudah bisa untuk tes itu. Kalau sudah diketahui Lepto bisa diobati. Kalau sudah terlambat sulit teratasi. Karena biasanya terjadi kegagalan organ," tandasnya. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: