Kementan: Komoditas Pisang Lokal Semakin Diminati Pasar Mancanegara

TrubusNews
Syahroni
10 Mei 2019   20:30 WIB

Komentar
Kementan: Komoditas Pisang Lokal Semakin Diminati Pasar Mancanegara

Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi berkesempatan melakukan kunjungan kerja ke sentra penghasil pisang di Lampung, Jumat 10/5). (Foto : Doc/ Kementan RI)

Trubus.id -- Pisang lokal saat ini menjadi primadona buah unggulan di Indonesia. Produksinya pun kini tidak hanya bisa mencukupi permintaan dalam negeri. Di pasar global, pisang lokal juga sudah sanggup untuk bersaing. Hal ini disampaikan Direktur Jendral Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Tanggamus, Lampung, Jumat (10/5).

Dalam kesempatan itu, Suwandi mengunjungi tempat produksi pisang lokal yang dikelola oleh Koperasi Tani Hijau Makmur. Koperasi ini memproduksi pisang lokal. Salah satunya adalah jenis pisang mas kirana. Hasil produksi pisang jenis ini bisa memenuhi permintaan pasar lokal. 

"Bahkan dengan kualitas yang bagus bisa masuk ke supermarket dan sudah kita ekspor ke luar," ujarnya.

Suwandi menjelaskan pisang tersebar di pelosok nusantara, di antaranya di Lampung. Proses penanaman pisang sampai panen membutuhkan waktu sekitar 9 bulan. Agar kulit pisang mulus dan bebas dari penyakit, maka jantung pisang diberi perlakuan suntik dengan zat organik ramah lingkungan. Setelah dipanen pisang-pisang ini memasuki proses pembersihan dimana pisang akan dicuci dan dilap. 

Baca Lainnya : Kementan Ekspor Pisang ke China dan Nanas ke Spanyol

"Setelah bersih, pisang-pisang ini juga akan melalui proses penirisan sebanyak 2 kali sehingga terbebas dari kotoran dan serangga atau hama," jelasnya.

Semua pisang bersih, lanjut dia, kemudian akan di Grading dengan cara ditimbang satu-persatu. Misal pisang dengan berat 0,8 kilogram masuk ke grade A, sedangkan pisang dengan berat 0,67 kilogram masuk ke grade B. Proses selanjutnya pisang ini akan disusun dalam kardus dengan total berat 11 kilogram perkardusnya.

“Semua pisang ini dalam keadaan mentah, dan akan matang dalam waktu 4 hari jika disimpan dalam suhu 14 derajat," ujar Suwandi.

Lalu bagaimana pemanfaatan pisang yang reject? Suwandi menekankan nantinya akan diolah menjadi sale pisang, sehingga tetap memberikan nilai tambah atau pendapatan bagi petani. Untuk rasanya sale pisang mas mempunya rasa yang paling manis dibandingkan jenis lainnya. 

"Sale pisang ini juga mempunyai pasar yang cukup besar, salah satunya untuk Sumedang Jawa Barat," ucapnya.

Lebih lanjut Suwandi mengatakan bahwa pisang mas sangat diminati oleh konsumen di Singapura dan Cina. Tidak hanya pisang mas, petani Lampung juga sudah mengekspor pisang cavendish.

"Imagenya Indonesia itu masih impor pisang, saya katakan itu tidak benar, kita tidak ada impor pisang, bahkan kita sudah ekspor pisang. Jadi, mari bersama kembangkan potensi pisang ini, sehingga kedepan bisa memasok kebutuhan pasar lokal dan luar negeri," tandas Suwandi.

Baca Lainnya : Budidaya Pisang Menggiurkan, Nilai Ekspor 2018 Naik 70,4 Persen

Pada kesempatan yang sama, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Lampung, Achmad Chrisna Putra mengatakan bahwa ada 3 jenis pisang yang dibudidayakan di wilayahnya. Yang pertama pisang mas kirana, lalu pisang barangan dan kemudian pisang cavendish. Untuk lahannya di Lampung ini totalnya bisa mencapai 1.000 hektare, sementara khusus di Tanggamus ada 500 hektare.

“Untuk penanamannya kami mengembangkan dengan kultur jaringan, jadi tanamannya bisa tumbuh seragam dan kompak," katanya.

Staf PT Great Giant Pineapple yang menangani pisang di Tanggamus, Sigit menambahkan, permintaan pasar dalam negeri sampai 3.000 kardus perminggu, sedangkan yang bisa dipasok dari daerah sini baru 500 kardus perminggu. Yang artinya masih ada peluang pasar sekitar 6 kali lipat dari pemasok sekarang, artinya potensi pasar luar biasa.

“Tidak hanya potensi pasar dalam negeri, potensi pasar luar negeri juga sangat besar," sebutnya.

Untuk Singapura, permintaan sebanyak 1 kontainer sekitar 5,6 ton per minggu dan Cina sebanyak 2 kontainer sekitar 10 ton lebih perminggu. Realisasinya permintaan sebanyak ini baru bisa kami penuhi hanya 108 kardus. "Hal ini menjadi peluang besar hampir 15 kali lipat," pungkas Sigit. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: