Kementan Tingkatkan Kesadaran Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba

TrubusNews
Astri Sofyanti
09 Mei 2019   11:30 WIB

Komentar
Kementan Tingkatkan Kesadaran Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba

Seminar penigkatan Kesadaran Tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba (Foto : Dok Kementan)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, resistensi antimikroba (AMR) saat ini telah menjadi ancaman global bagi kesehatan masyarakat, hewan hingga lingkungan. AMR terjadi karena munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang kurang tepat dan tidak bertangung jawab di berbagai sektor kesehatan masyarakat, peternakan, kesehatan hewan, pertanian dan perikanan.

Berdasarkan studi dari WHO tahun 2014, diperkirakan angka kematian akibat AMR dapat mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2050 bila tidak ada pengendalian AMR. Untuk mencegah bertambahnya kerugian dan memperlambat laju AMR ini diperlukan langkah-langkah strategis berbagai sektor kesehatan dan sektor terkait lainnya.

"Pemerintah Indonesia melalui Kementan dan kementerian terkait telah mengambil langkah strategis dengan adanya Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA) yang merupakan tidak lanjut dari Rencana Aksi Global" kata Ni Made Ria Isriyanthi, dari Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (9/5).

Baca Lainnya : Stabilkan Harga, Kementan Gelar OP Telur Ayam di Pasar Palmerah

Selain itu, Kementan telah melakukan kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait resistensi antimikroba sejak tahun 2016 melalui kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik sedunia, seminar bagi mahasiswa kedokteran hewan di 11 universitas di Indonesia, seminar bagi peternak unggas melalui sarasehan, Expo dan pameran (Indolivestock, ILDEX dan Sulivec) dengan melibatkan sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan.

"Kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait AMR juga telah dilakukan untuk para stake holder secara bertahap dari tahun 2017 hingga sekarang" tambah Ria.

Sementara itu, Tri Satya Putri Naipospos, dari Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menyampaikan bahwa pengendalian AMR harus menggunakan pendekatan one health yang bersifat multisektor dan melibatkan semua aktor dari peternakan ke konsumen, dan dari fasilitas kesehatan ke lingkungan.

Baca Lainnya : Kementan Gelar Operasi Pasar Bawang Putih dan Telur di Jakarta

Penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab harus dipahami oleh semua orang yang terlibat dalam sektor peternakan, termasuk dokter hewan yang bekerja diberbagai sektor seperti praktisi, perwakilan dari sektor swasta terutama perusahaan obat-obatan hewan dan pabrik pakan, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), ataupun dari berbagai organisasi terkait dokter hewan yakni asosiasi profesi untuk dokter hewan (PB-PDHI) serta Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI).

"Ke depan mereka dapat menjadi agen perubahan dalam penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di tingkat peternakan dan masyarakat veteriner untuk mengurangi risiko resistensi antimikroba di sektor peternakan dan kesehatan hewan" urai Tri Satya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Hari Parathon dari Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA), Kemenkes menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak. Hal ini menurutnya dapat membantu mencegah dan mengurangi laju AMR sehingga di masa yang akan datang masyarakat masih dapat menggunakan antibiotik.

Baca Lainnya : Kementan Dukung Petugas PUP Berperan Strategis Kawal Kejayaan Perkebunan Nasional

Hal serupa juga disampaikan oleh Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI dalam paparannya. Irawati menekankan peran petugas lapang dalam memastikan pemberian obat yang tepat dan bijak.

“ASOHI selalu mendukung Pemerintah dalam implementasi berbagai peraturan, seperti peraturan terkait pelarangan penggunaan antibiotik untuk imbuhan pakan, juga petunjuk teknis untuk medicated feed” ungkap Irawati. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Menkraf Dorong Indonesia Miliki Peta Geospasial Pariwisata

Peristiwa   22 Feb 2020 - 14:25 WIB
Bagikan: