Bank Dunia: Limbah Berbahaya di Bumi Tahun 2050 Bisa Mencapai 3,40 Miliar Ton

TrubusNews
Astri Sofyanti
07 Mei 2019   19:30 WIB

Komentar
Bank Dunia: Limbah Berbahaya di Bumi Tahun 2050 Bisa Mencapai 3,40 Miliar Ton

Ilustrasi limbah berbahaya (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Baru-baru ini Bank Dunia melaporkan bahwa tahun 2050 mendatang total limbah yang ada di Bumi mencapai 3,40 miliar ton. Diperkirakan angka tersebut kian meningkat dari tahun 2016 yang hanya sekitar 2,01 miliar ton limbah. Padahal setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang bersih.

Hal tersebut membuktikan, bahwa seluruh elemen harus bersatu dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan demi kehidupan makhluk Bumi di masa depan.

Kondisi ini mengakibatkan, arus pergerakan limbah global saat ini telah berdampak tidak proporsional terhadap negara-negara berkembang.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono selaku delegasi Indonesia dalam Ban Amendment Ceremony di Sidang Keempatbelas Konferensi Para Pihak Konvensi Basel Konvensi Stockholm dan Konvensi Rotterdam, yang digelar di Jenewa, Swiss baru-baru ini mengungkapkan, pergerakan lintas batas limbah berbahaya dan beracun menimbulkan risiko tinggi bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

 “Jaringan perdagangan global yang mengekspor limbah berbahaya dan beracun ke negara-negara berkembang ironisnya justru menjadi bisnis yang menguntungkan,” kata Agus melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (7/6).

Lebih lanjut dirinya menuturkan, bagi negara berkembang penanganan limbah berbahaya merupakan suatu persoalan yang sulit dituntaskan. Hal ini karena diakui Agus, negara-negara berkembang tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi limbah berbahaya. Limbah berbahaya sendiri erat kaitannya dengan upaya melindungi lingkungan dan manusia.

Untuk itu, dirinya meminta semua pihak dalam Konvensi Basel agar memperkuat dan meningkatkan implementasi amanat Konvensi Basel dengan lebih efektif dan mendukung berlakunya Amendemen atas Konvensi Basel tentang Pengawasan Perpindahan Lintas Batas Limbah Berbahaya dan Pembuangannya.

“Kita semua seharusnya tidak goyah dalam mewujudkan apa yang telah kita sepakati dalam Sidang Ketiga Konferensi Para Pihak Konvensi Basel di Jenewa pada tahun 1995 silam,” ujar Agus.  

Sebagai informasi, Indonesia telah melakukan ratifikasi Amendemen atas Konvensi Basel tentang Pengawasan Perpindahan Lintas Batas Limbah Berbahaya dan Pembuangannya melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2005.

Agus menjelaskan, kini hanya perlu dua negara lagi untuk meratifikasi sebelum melanjutkan ke tahapan implementasi Amendemen atas Konvensi Basel. 

“Keamanan lingkungan global tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, namun juga komitmen politik yang kuat. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil tindakan dan melakukan yang telah kita bicarakan,” pungkasnya. [NN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: