Pelaku Industri Pariwisata Perlu Menerapkan Mitigasi Bencana 

TrubusNews
Binsar Marulitua
06 Mei 2019   17:30 WIB

Komentar
Pelaku Industri Pariwisata Perlu Menerapkan Mitigasi Bencana 

Infografis mitigasi bencana (Foto : Trubus.id/ Iwan)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pelaku bisnis Industri pariwisata selalu siap siaga menghadapi bencana alam. Untuk itu peran aktif dalam antisipasi dan penanggulangan bencana demi mewujudkan industri pariwisata yang berkelanjutan sangat dibutuhkan.

"Indonesia memiliki 500 gunung api dengan 127 di antaranya merupakan gunung api aktif. Selain itu siklus gempa yang memiliki periode berbeda tetapi tidak dapat diprediksi secara tepat waktu kejadiannya seperti di Aceh, Jakarta, serta Palu," ujarnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo dalam siaran pers, Senin (6/5). 

Doni mejelaskan bahwa pariwisata ini merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Industri pariwisata diakui memberikan total nilai devisa nasional hingga Rp190 triliun pada tahun lalu.

Baca Lainnya : Gempa dan Tsunami Paling Banyak Makan Korban, Mitigasi Harus Dikuatkan

Jumlah  tersebut menempatkan pariwisata pada posisi kedua setelah penerimaan devisa hasil ekspor kelapa sawit, yang mencapai Rp239 triliun. Tetapi, industri yang mungkin terimbas peristiwa alam itu masih dapat terus dikembangkan mengingat keindahan wilayah nusantara yang luar biasa.

Ia menambahkan, dunia pariwisata harus memahami penanggulangan bencana seperti tren bencana yang meningkat. Ini bisa dijadikan refleksi untuk pengelolaan pariwisata untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Menyinggung potensi ancaman bahaya di wilayah nusantara, Doni berpendapat bahwa peristiwa alam diharapkan tidak mengganggu sektor pariwisata. 

Dengan kondisi tersebut, BNPB mengharapkan para pelaku industri pariwisata untuk menekankan perlunya upaya-upaya seperti pencegahan dan mitigasi.

"Kenali ancamannya, siapkan strateginya. Siap untuk selamat," katanya.  

Data BNPB menyatakan, pada Januari hingga April 2019, ada 1.586 bencana yang terjadi. Peristiwa-peristiwa tersebut menelan korban jiwa dan hilang sebanyak 438 orang. Sejumlah kejadian tersebut, 98% merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung.

Baca Lainnya : Penginapan di Pesisir Banten Belum Paham Mitigasi Bencana 

Doni menyampaikan bahwa pelaku pariwisata memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Melalui upaya prabencana, pengelola pariwisata dapat memberikan informasi kepada wisatawan atau pun melatih kesiapsiagaan para pekerjanya. 

Para pelaku pariwisata perlu untuk melakukan upaya mitigasi vegetasi terhadap hotel atau penginapan di dekat kawasan pantai, seperti penanaman pohon yang berfungsi mengurangi dampak tsunami. 

Menurut data yang dihimpun BNPB, bencana merupakan capital shock yang menggerus jumlah modal dan nilai modal fisik secara signifikan. Tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu menyebabkan kerugian hingga ratusan milyar.

Bencana tersebut juga menyebabkan efek domino seperti pembatalan kunjungan wisatawan hingga 10%. Sebelum terjadi tsunami, tingkat hunian hotel dan penginapan di kawasan wisata Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung mencapai 80%—90%. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Jokowi Tinjau Posko Penanganan Karhutla di Riau

Peristiwa   21 Feb 2020 - 11:08 WIB
Bagikan: