Pengamat Sebut Kejadian Bencana Hidrometeorologi Akibat Peningkatan Suhu Bumi

TrubusNews
Astri Sofyanti
01 Mei 2019   22:00 WIB

Komentar
Pengamat Sebut Kejadian Bencana Hidrometeorologi Akibat Peningkatan Suhu Bumi

Ilustrasi bencana hidrometeorologi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Mahawan Karuniasa mengungkapkan, meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia diakibatkan karena adanya peningkatan suhu 1 derajat Celsius.

"Jadi sejak tahun 2002 sampai tahun 2016, bencana Hidrometeorologi di Indonesia melonjak tajam seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor," ujar Mahawan di Jakarta, Rabu (1/5).

Bahkan dirinya mengungkapkan, hal tersebut terjadi akibat perubahan iklim yang kian ekstrem.

“Naik 1 derajat celsius (suhu bumi) dibanding revolusi industri. Implikasinya adalah cuaca ekstrem dampaknya itu bencana-bencana seperti banjir," ujarnya.

Baca Lainnya : Inilah 5 Wilayah dengan Bencana Terbanyak Hingga April 2019

Dirinya mengatakan berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) yang mencatat lonjakan 16 kali lipat terkait bencana hidrometeorologi itu. "Sebenarnya kalau data dari BNPB sudah mulai tahun 2002 itu melonjak tajam, 16 kali lipat. 2002 itu cuma 140-an kejadian, di tahun 2016 ada lebih dari 1.300-an kejadian," tambahnya seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Diakui Mahawan, bencana hidrometeorologi di Indonesia saat ini telah mencapai 90 persen dari total bencana di Indonesia.

Menurut data yang dikumpulkan BNPB sejak 1980, proporsi bencana hidrometeorologi mencapai 96 persen dari total bencana yang terjadi di Indonesia. Bencana hidrometeorologi ini mencakup banjir (38 persen), tanah longsor (21 persen), kebakaran hutan (3 persen), semburan (26 persen), kekeringan (8 persen), kebakaran hutan (3 persen).

Baca Lainnya : BNPB Catat 1.586 Kejadian Bencana Hingga April 2019

Sebelumnya Kepala BMKG Dwikorita mengatakan, bencana erupsi gunung berapi (0,5 persen), tsunami (0,07 persen), abrasi pantai (1 persen), dan gempa bumi (2 persen).

Meski bencana hidrometeorologi ini kerap melanda Indonesia, diakui Dwikorita tidak menimbulkan korban jiwa seperti bencana lain seperti gempa, tsunami, dan gunung meletus. Namun, secara nilai ekonomi, bencana akibat hidrometeorologi lebih besar. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: