Begini Cara Petani Bandung Tingkatkan Produksi Saat Lahan Pertanian Menyusut

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
25 April 2019   23:00

Komentar
Begini Cara Petani Bandung Tingkatkan Produksi Saat Lahan Pertanian Menyusut

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Alih fungsi lahan dikhawatirkan menurunkan produksi pertanian di Kota Bandung. Untuk itu, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung terus berupaya mengatasi masalah ini.

Salah satu langkah yang kini tengah dilakukan untuk mencari solusi terkait alih fungsi lahan yang menyebabkan penurunan produksi itu adalah dengan menggelar pertemuan dengan para petani dalam Mimbar Sarasehan Kota Bandung. Acara ini sendiri digelar di Hotel Shakti, di Jalan Soekarni-Hatta, Kamis (25/4).

Dalam pertemuan kali ini, ada 5 kelompok tani yang hadir. Mereka mewakili petani palawija, hortikultura, peternakan, perikanan dan perkebunan. 

"Ada lima kelompok petani, yakni petani palawija, holtikultura, peternakan, perikanan dan perkebunnan. Tiap kelompok itu minimal ada 25 petani, jadi sekitar 1250 hingga 1500 petani yang ada di Kota Bandung," ungkap Plt Kepala Dispangtan Kota Bandung, Elly Wasliah seperti dilansir dari Galamedia, Kamis (25/4).

Baca Lainnya : Melalui Desa Tani Expo Petani Milenial, Kementan Dorong Petani Bandung jadi Mandiri

Dalam pertemuan itu Dispangtan Kota Bandung mendorong mereka untuk meningkatkan produksi pertanian dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan teknologi dan pemilihan bibit unggulan.

Saat ini, ungkap Elly, ketersediaan lahan pertanian di Kota Bandung hanya tersisa sekitar 625 hektare. Dari lahan seluas itu, kontribusinya hanya 2 sampai 3 persen untuk memenuhi kebutuhan beras wilayah itu yang berjumlah 600 ton/hari.

"Meski begitu kita tidak patah semangat, kita harus tetap tingkat produktifitas," ungkapnya.

Elly mengakui, alternatif menambah luasan lahan untuk memenuhi kebutuhan itu memang sudah tidak memungkinkan dilakukan. Karena itu, pihaknya mendorong para petani untuk meningkatkan produksi dengan cara menerapkan teknologi baru dan pemilihan bibit berkualitas.

Elly menjelaskan, Mimbar Sarasehan Kota Bandung Tahun 2019 sendiri digelar untuk menyelaraskan kebutuhan petani dengan program yang nantinya dirancang Dispangtan selain sebagai ajang silaturahmi dengan sesama petani.

Baca Lainnya : Alih Fungsi Lahan di Jogja Kian Masif, Namun Hasil Panen Petani Tetap Kondusif

"Di acara ini kita hadirkan narasumber dari BRI dan PT Pupuk Indoensia. Nanti dipaparkan bagaimana persyaratan untuk mendapatkan modal dan juga berkaitan dengan pupuk berusbsisi," terangnya.

Beberapa masukan yang kerap disampaikan yakni masalah bibit yang bagis dan pupuk bersubsisdi. Beberapa tahun ke belakang, diakui petani agak sulit dapat pupuk bersubsidi karena toko tani yang berkewajiban memasarkannya justru memasok pupuk subsidi itu ke luar Kota Bandung.

"Tapi sekarang sudah ditertibkan lewat kartu, mana toko tani yang nakal bakal ketahuan," tandasnya. 

Sementara itu, salah satu peserta Mimbar Saresehan,  Rahmawati asal Kelurahan Kujangsari Kecamatan Bandung Kidul mengatakan kelompoknya membutuhkan bibit, pupuk dan bantuan pembimbingan. Kelompoknya memanfaatkan ruang terbuka hijau seluas 320 meter persegi di wilayah itu untuk menanam sayuran dan tanaman hias.

"Tanaman besarnya sudah ada, sisanya mau ditanmi sayuran dan tanaman hias," ungkapnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: