Indonesia Utus Delegasi untuk Hadiri 3 Konvensi Internasional Terkait Pengelolaan B3

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
24 April 2019   20:30

Komentar
Indonesia Utus Delegasi untuk Hadiri 3 Konvensi Internasional Terkait Pengelolaan B3

Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) KLHK, Nur Yun Insiani saat memberikan pemaparan kepada media massa di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (24/4). KLHK akan berpartisipasi pada tiga konvensi internasional terkait pengelolan Bahan Berbahaya Beracun (B3)) (Foto : Trubus.id/ Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Pemerintah Indonesia akan hadir dalam konferensi tingkat tinggi atau Conference of Parties (COP) terkait dengan tiga konvensi, yaitu Konvensi Basel, Konvensi Stockholm, dan Konvensi Rotterdam. Penyelenggaraan COP ini akan berlangsung dari tanggal 29 April hingga 10 Mei 2019 mendatang di Jenewa, Swiss.

“Selama kurang lebih tiga minggu, para pemerintah negara yang telah meratifikasi konvensi akan hadir, dan akan membahas beberapa isu penting terkait dengan ketiga konvensi tersebut,” ujar Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PSLB3) KLHK, Nur Yun Insiani, di Jakarta Rabu (24/4). 

Konvensi Basel merupakan perjanjian internasional mengenai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kemudian, Konvensi Stockholm digelar terkait dengan bahan pencemar organik yang persisten atau Persistent Organic Pollutants (POPs). 

Selanjutnya, Konvensi Rotterdam terkait dengan persetujuan awal mengenai perdagangan bahan kimia dan pestisida dengan bahaya tertentu melalui pertukaran informasi. Konvensi Rotterdam ini juga ditujukan agar tidak terjadi perdagangan secara ilegal terhadap bahan kimia dan pestisida.

Baca Lainnya : Pemerintah Siapkan Revisi PP dan Perpres Pengurangan Bahan Kimia Berbahaya

“Pada COP kali ini, terkait Konvensi Basel akan dibahas mengenai plastik, marine debris (serpihan plastik yang ada di laut). Mengenai Konvensi Stockholm akan dibahas dua isu penting terkait Chrysotile asbestos, Fenthion, Acetochlor, Phorate, dan Hexabromocyclododecane. Untuk Konvensi Rotterdam ada beberapa isu, dan yang terpenting yaitu penggunaan paraquat dichloride formulasi 276 g/L, dan Carbosulfan. Keduanya bahan yang digunakan untuk pestisida,” jelas Yun.

Pengelolaan B3 di Indonesia, disampaikan Yun, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2001. Ada 10 jenis B3 yang telah diatur dalam PP tersebut, sementara saat ini sudah 16 jenis B3 yang dilarang.

“Jadi PP ini diterbitkan tahun 2001, sedangkan bahan-bahan kimia yang dibahas di dalam COP bertambah, sehingga PP ini harus direvisi untuk bisa mengakomodir bahan-bahan kimia yang kemudian diputuskan tadinya dapat dipakai menjadi terbatas, yang terbatas menjadi dilarang. Jadi perlu dimasukkan jenis yang belum ada untuk mempermudah dalam pengaturannya,” pungkas Yun.

Direktur Jenderal PSLB3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati akan memimpin Delegasi Republik Indonesia (DELRI) dalam pertemuan Triple COPs pekan mendatang. Delegasi terdiri dari perwakilan KLHK, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: