Meski Surplus Gabah, Pemprov Aceh Tetap Waspadai Konversi Lahan Sawah

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
24 April 2019   16:30

Komentar
Meski Surplus Gabah, Pemprov Aceh Tetap Waspadai Konversi Lahan Sawah

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik, saat ini Provinsi Aceh memiliki 295 ribu hektare lahan pertanian sawah yang mampu memproduksi 2,5 ton gabah per tahun. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 5,2 juta jiwa, konsumsi gabah Aceh per tahun diperkirakan hanya sekitar 1,2 juta ton saja. Artinya, setiap tahunnya Aceh surplus gabah hingga 1,3 ton. 

Dengan surplus yang ada, Pelaksana Tugas (plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan, Aceh berkontribusi dalam memenuhi ketersediaan pangan di wilayah lain di Indonesia. Namun demikian, Nova mengatakan, kesuksesan ini sebaiknya dijadikan pengingat juga untuk menekan angka konversi lahan di Aceh yang bisa berimbas pada menurunnya produksi gabah Aceh di masa mendatang.

“Tingginya tingkat konversi lahan sawah menjadi kawasan permukiman, terus terang membuat kami khawatir produksi gabah Aceh akan menurun pada tahun-tahun mendatang. Apalagi data Kementerian Agraria/Badan Pertanahan Nasional menyebutkan, luas sawah di Aceh mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir menjadi 193 ribu hektare. Oleh karena itu, kondisi ini harus segera diantisipasi,” ungkap Nova di sela-sela penanaman perdana percontohan cluster padi Indeks Pertanaman (IP) 300, di Indrapuri, Aceh Besar, Selasa (23/4). 

Baca Lainnya : Lahan Sawah Terus Menyusut, Perpres Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Dikebut

Nova mengungkapkan, tingginya tingkat alih fungsi lahan mengharuskan Pemerintah Aceh berinovasi untuk memformulasikan kebijakan baru dalam mempertahankan luas areal sawah yang ada. Untuk itu Pemerintah Aceh bekerja sama dengan kelompok tani dan sejumlah lembaga lainnya telah menyiapkan program cetak sawah baru. Selain itu, pemberdayaan dan pelatihan petani juga ditingkatkan.

“Salah satu pemberdayaan yang kita lakukan adalah melalui pemanfaatan alat pertanian yang dipadu dengan industri pengolahan berbasis siber-fisik atau 4.0. Proyek percontohan ini kita sebut Cluster Padi IP 300, dengan areal uji coba di atas lahan seluas 500 hektare,” imbuhnya lagi.

Program cluster Padi IP 300 yang dilaksanakan di Kabupaten Aceh Besar ini, merupakan kegiatan perdana, yang dikelola oleh kelembagaan ekonomi petani dengan dukungan teknologi budidaya dan sarana produksi. Termasuk juga mekanisasi dan industri pengolahan sebagai upaya menumbuhkan minat petani milenial, yang pendanaannya didukung dari sumber dana APBA dan APBN dengan melibatkan 1.876 KK petani.

“Kami optimis, modernisasi dan penggunaan alsintan bukan hanya mempermudah dan mempercepat pengolahan tanah dan penanaman, tetapi juga memantik semangat kaum millenial untuk terjun ke dunia pertanian. Karena itu, kami optimis kegiatan ini akan berjalan sukses, sehingga pada tahun berikutnya, program ini dapat diperluas di wilayah lain,” kata Plt Gubernur.

Dalam kesempatan tersebut, Nova berharap agar Kementerian Pertanian mendukung program pencetakan lahan sawah baru di Aceh agar ekstensifikasi pertanian sawah berjalan lancar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan menambahkan, ia berharap berharap metode IP300 dapat meningkatkan hasil panen dari sebelumnya sebesar 6 ton per hektare menjadi 8 hingga 10 ton perhektare.

Baca Lainnya : Atasi Berkurangnya Jumlah Petani, Kementan Dorong Optimalisasi Alsintan

“Kami meyakini, bahwa pertanian berbasis teknologi dapat mendorong dan meningkatkan hasil para petani. Jika sebelumnya mencapai 6 ton, maka ke depn diharapkan dapat meningkat menjaadi 8 hingga 10 ton per hektare,” ujar A Hanan dalam sambutannya di kesempatan yang sama.

Sedangkan Deddi Nursamsi, selaku Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur menjelaskan, ada tiga hal yang dapat mendongkrak hasil pertanian, yaitu infrastruktur pertanian, inovasi teknologi pertanian dan berbagai upaya pemberdayaan petani dan seluruh stakeholder pertanian. Melihat kesuburan tanah dan ketersediaan air yang memadai, Deddi mengajak masyarakat bersyukur dan mendukung pencanangan cluster IP300 di Aceh Besar.

“Menanam adalah bentuk rasa syukur masyarakat Aceh Besar atas ketersediaan air dan kesuburan tanah yang telah Allah berikan di daerah ini,” kata Deddi Nursamsi.

Dalam kegiatan tersebut, Plt Gubernur juga menyerahkan bantuan hand sprayer serta menyerahkan asuransi usaha tani kepada beberapa kelompok tani di Kabupaten Aceh Besar. Selanjutnya, Plt Gubernur bersama Wali Nanggroe Aceh, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Pangdam Iskandar Muda, Bupati Aceh Besar, serta unsur Forkopimda lainnya melakukan penanaman padi dengan mesin penanam padi. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: