Profesor dari Jepang Tawarkan Sistem Pengelolaan Gambut Ramah Lingkungan

TrubusNews
M Syukur | Followers 2
11 April 2019   14:30

Komentar
Profesor dari Jepang Tawarkan Sistem Pengelolaan Gambut Ramah Lingkungan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kebakaran di lahan gambut Riau terus berulang. Dampaknya, bencana asap tak bisa dihindari. Kondisi paling parah terjadi pada tahun 2015 silam. Bencana kabut asap kala itu cukup menyita perhatian dunia. Pasalnya pada tahun itu, gambut di Indonesia, termasuk di Riau, melepaskan lebih dari 800 juta metrik ton CO2 ke udara.

Karena kejadian itu, kadar oksigen menipis sehingga beberapa warga Riau meregang nyawa. Keadaan ini juga dilaporkan memicu kematian dini 100 ribu orang di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

"Bahkan Bank Dunia melaporkan kerugian Indonesia akibat bencana asap kala itu mencapai US$ 16 miliar," kata Professor Emeritus dari Universitas Hokkaido Jepang dan Presiden Japan Peatland Society (JPS), Mitsuru Osaki kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis (11/4/).

Pria yang sudah lama meneliti gambut ini menyatakan dukungannya kepada Pemerintah Indonesia terkait moratorium izin baru pembukaan ekosistem gambut untuk kepentingan lahan perkebunan. Pasalnya, pembukaan lahan gambut tanpa memikirkan sistem perairan yang benar membuatnya kering sehingga mudah terbakar.

Baca Lainnya : Pusat Lahan Gambut Tropis Internasional Dibangun di Bogor 

Hanya saja hingga kini, izin lama untuk perkebunan dan hutan tanaman industri masih banyak beroperasi di lahan gambut. Hal ini tentu tidak bisa dihentikan, tapi perlu sistem pengelolaan gambut yang ramah, baik lingkungan ataupun kesehatan tanaman di atasnya.

Osaki sendiri menawarkan hasil penelitiannya di gambut yang dikenal dengan teknologi AeroHydro Culture. Sistem ini disebutnya lebih ramah bagi industri dan perkebunan serta digadang-gadang sebagai solusi restorasi gambut di konsesi perusahaan.

Teknologi AeroHydro Culture ini dirancang agar sebagian akar tanaman seperti sawit tetap berada di atas dan sebagian lainnya akan berada di air di bawah gambut. Dengan demikian tanaman tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

"Diharapkan produktivitas tanaman tetap tinggi meskipun level tinggi muka air dinaikkan ke level kurang dari 40 centimeter di bawah permukaan gambut. Bakteri-bakteri juga ditanam pada tanah sehingga tanaman menyerap nutrisi secara maksimal," sebut Osaki.

Baca Lainnya : Penyelamatan Produktivitas Lahan Gambut dengan Mikroba

Dia menjelaskan, pengelolaan ekosistem gambut terbilang kompleks. Ada beberapa elemen yang harus dipertimbangkan dalam mengelolanya, mulai dari tinggi muka air, status nutrisi tanah dan air gambut serta ketersediaan oksigen. 

Selama ini, pertumbuhan tanaman di atas gambut terhambat jika tinggi muka air dinaikkan levelnya mendekati permukaan, sehingga pasokan oksigen berkurang dan berakibat kurangnya ketersediaan nutrisi untuk tanaman. 

"Oleh karena itu perlu terobosan baru sebagai solusi dan diharapkan sistem AeroHydro Culture bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG)," katanya.

Penerapan sistem ini sudah dieksperimentasikan Osaki dan BRG di Kabupaten Siak serta Palangkaraya. Program ini baru akan dijalankan pada Juni nanti dan mungkin baru setahun lagi bisa dilihat hasilnya.

Baca Lainnya : Biopet Solusi Pemanfaatan Ladang Gambut

"Saya optimis sistem ini mampu menjaga ekosistem gambut dan meningkatkan produktivitas tanaman di atasnya," ujar Osaki.

Dia menyatakan, menjaga lahan gambut bagi kelangsungan hidup manusia sangat penting untuk memerangi perubahan iklim. Perlindungan dan pemulihan gambut sangat penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon dan sirkuler. 

Menurutnya, gambut yang sehat akan menyerap dan menyimpan karbon. Namun saat terdegradasi, karbon dilepaskan hingga berakhir di atmosfer sebagai karbon dioksida. Sejauh ini, gambut rusak berkontribusi sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca dari sektor penggunaan lahan. 

"Emisi CO2 dari lahan gambut yang dikeringkan diperkirakan memproduksi 1,3 gigaton CO2 setiap tahun. Ini setara dengan 5,6 persen dari emisi CO2 antropogenik global. Makanya perlu diterapkan sistem Aerohydro Culture untuk mengelola gambut," tegasnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: