Kapal dan Helikopter Malaysia Teror Patroli Indonesia, KKP Protes

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
11 April 2019   11:09

Komentar
Kapal dan Helikopter Malaysia Teror Patroli Indonesia, KKP Protes

Selah satu kapal asing ilegal berbendera Malaysia yang ditangkap patroli laut Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP di Selat Malaka (3/4/2019). Sepanjang 2019, patroli gabungan berhasil menangkap 38 kapal ikan ilegal. (Foto : Dokumentasi PSDKP -KKP)

Trubus.id -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprotes tindakan pemerintah Malaysia yang berusaha menghalangi penagkapan dua kapal ilegal asal Negeri Jiran tersebut. Kapal otoritas pertahanan maritim  dan helikopter Pemerintah Malaysia  menerobos masuk ke wilayah perairan Indonesia di Selat Malaka pada tanggal 3 dan 9 April 2019.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Agus Suherman menjelaskan, kapal dan helikopter Malaysia tersebut  mengejar kapal patroli (KP) Hiu 08 yang sedang menggiring dua kapal berbendera Malaysia yang kedapatan memasuki wilayah RI.

Kedua kapal tersebut ditangkap atas tuduhan mengambil ikan di dalam kawasan wilayah perairan Indonesia dan menggunakan alat tangkap yang dilarang. 

Perbuatan kapal dan helikopter milik Pemerintah Malaysia yang memasuki wilayah Indonesia dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk pelanggaran kedaulatan.

"Merupakan bentuk obstruction of justice (merintangi proses hukum) dengan menghalangi KP. Hiu 08 dan KP Hiu Macan Tutul 02 yang sedang melaksanakan tugas dan kewenangannya berdasarkan Pasal 73 UNCLOS dan Pasal 66C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan," tutur Agus dalam siaran persnya, Rabu 10 April 2019.

Dia menegaskan KKP segera mengirimkan surat permintaan kepada Kementerian Luar Negeri untuk melayangkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia.

 "Diharapkan Pemerintah Malaysia dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah kegiatan illegal fishing yang dilakukan oleh kapal-kapal perikanannya di perairan Indonesia," tuturnya. 

KKP megungkapkan, KP Hiu 08 saat proses membawa kapal tangkapan, mengidentifikasi kedatangan kapal Maritim Malaysia jenis speedboat dengan nama Penggalang 13 yang melakukan manuver dan mendekati kapal tangkapan serta KP Hiu 08 yang berada di dalam perairan Indonesia. 

Selanjutnya Penggalang 13 merapat ke KP Hiu 08 dan meminta melepaskan kedua kapal yang ditangkap. Permintaan tersebut ditolak. Penggalang 13 mencoba meminta kembali agar satu kapal saja yang dilepas. 

Permintaan tetap ditolak oleh KP Hiu 08. "Pada saat bersamaan Penggalang 13 melakukan negosiasi dengan Kapal Hiu 08, hadir juga tiga helikopter yang terbang mengitari KP Hiu 08 dan kedua kapal tangkapan," tutur Agus. 

Selanjutnya setelah negosiasi tidak berhasil, Penggalang 13 beserta 3 helikopter meninggalkan KP. Hiu 08 kembali ke perairan Malaysia, sedangkan KP Hiu 08 kemudian melanjutkan pelayaran membawa kapal kedua kapal tangkapan ke Stasiun PSDKP Belawan dan tiba pada pukul 21.30 WIB. 

Peristiwa serupa terjadi pada 9 April 2019, saat KP Hiu Macan Tutul 02 menangkap kapal motor (KM) PKFA 8888 berbendera Malaysia memasuki perairan Indonesia di Selat Malaka. Saat menggiring kedua kapal itu, tiba-tiba helikopter Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) yang terbang rendah mengitari KP. Hiu Macan Tutul 02. 

Melalui komunikasi radio channel 16 meminta kepada KP. Hiu Macan Tutul 02 agar kedua kapal ikan yang ditangkap berbendera Malaysia dilepaskan. 

"Atas permintaan tersebut, KP. Hiu Macan Tutul 02 menyampaikan penolakan melepas kedua kapal tangkapan tersebut. Setelah dilakukan penolakan, sebelum helikopter APMM meninggalkan lokasi, heli tersebut berputar-putar mengitari KP. Hiu Macan Tutul 02 untuk melakukan intervensi," tambahnya.

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Mentan Amran: Mau Kaya, Jadi Petani!

Astri Sofyanti   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan: