Penyebab Karhutla di Lahan Gambut Karena Penurunan Tinggi Muka Air

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
09 April 2019   10:05

Komentar
Penyebab Karhutla di Lahan Gambut Karena Penurunan Tinggi Muka Air

Kebakaran di lahan gambut (Foto : Dok. BNPB)

Trubus.id -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Indonesia selalu terulang. Terlebih ketika memasuki musim kemarau yang begitu kering hingga dikatakan ekstrem (El Nino). 

Sebelumnya, Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino moderat akan terjadi pada April hingga Juli 2019. Oleh sebab itu, pelunya mewaspadai El Nino saat musim kemarau yang tahun ini diperkirakan kondisinya jauh lebih kering sehingga perlunya mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah-wilayah yang rawan terhadap kerhutla.

Guru Besar Perlindungan Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkapkan sebagian besar kebakaran hutan terjadi di lahan gambut. Pihaknya menjelaskan hal ini terjadi karena turunnya tinggi muka air di lahan gambut.

Dalam keterangan tertulis Selasa (9/4) mengutip Antara, Prof. Bambang juga mengungkapkan, untuk mencegah terjadinya karhutla diperlukan patroli baik lewat jalur darat ataupun jalur udara. Selain itu, patroli juga bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan yang disengaja oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan urusan pribadi ketimbang menjaga alam.

“Kebakaran seringkali terjadi di kawasan hutan produksi dan kawasan hutan konversi,” terang Bambang.

Dirinya menyarankan pihak-pihak terkait segera melakukan penertiban dan memberikan sanksi tegas dan tidak melakukan pembiaran. Lebih jauh diakuinya, selama ini penegakan hukum karhutla juga melakukan proses penindakan terhadap pelaku pelanggaran hukum lain yang menyertainya.

Merespon pernyataan Guru Besar IPB, Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles B. Pandjaitan mengatakan, ada langkah korektif penanganan karhutla telah dilakukan dengan mengajak para pihak beralih paradigma dari melakukan pengendalian ke pencegahan kebakaran.

“Pencegahan dimulai dengan sistem deteksi dini titik panas melalui citra satelit dan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di tingkat tapak,” bebernya.

Pihaknya menjelaskan bahwa patroli telah dilakukan secara rutin dan selalu ditingkatkan setiap tahunnya ini melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, Pemerintah Daerah dan unsur masyarakat. Patroli terpadu ini dilakukan di desa-desa yang rawan karhutla.

 

 

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: