Stunting di Kutai Barat Masih Mengkhawatirkan, Intervensi Terus Dilakukan

TrubusNews
Astri Sofyanti
28 Mar 2019   19:00 WIB

Komentar
Stunting di Kutai Barat Masih Mengkhawatirkan, Intervensi Terus Dilakukan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur melaporkan, masih ada 870 balita di wilayah tersebut yang saat ini terindikasi mengalami stunting. Padahal selama ini, stunting terus diperangi oleh pemerintah Indonesia.

Stunting sendiri merupakan kondisi di mana anak gagal tumbuh atau lebih pendek dari pada anak-anak seusianya. Tak hanya itu, stunting juga berdampak hingga anak itu dewasa. Bahkan bukan tidak mungkin, generasi bangsa bisa terhambat dalam persaingan jika stunting dibiarkan berlarut-larut. Karena itu, upaya penurunan angka stunting, sampai saat ini masih dilakukan Kementerian Kesehatan dan lintas kementerian terkait lainnya.

Guna mencegah anak terindikasi stunting, calon ibu harus benar-benar memperhatikan asupan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), atau di mulai dari masa kehamilan awal sampai anak berusia dua tahun. Pada fase ini kebutuhan gizi anak dan ibu menyusui harus tercukupi agar anak tumbuh cerdas dan tidak stunting. Pertumbuhan awal ini dinilai sangat menentukan untuk perkembangan anak di masa depan.

Baca Lainnya : Peneliti LIPI: Daun Kelor Sebagai Sumber Pangan Lokal Bisa Mencegah Stunting

"Bagi anak yang sudah mengalami stunting, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah mencukupi kebutuhan gizi agar pertumbuhannya bisa normal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat, Aliman, melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes, Rachel Pakkung, di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, melansir Antara.

Sementara upaya untuk menekan angka stunting bahkan berupaya agar tidak ada, diakui Rachel, paling tidak ada dua hal yang pihaknya lakukan, yakni melakukan intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Baca Lainnya : Pemanfaatan Pangan Lokal, Langkah Penanganan Stunting yang Cukup Potensial

Pihaknya mengatakan, sejumlah hal yang dilakukan dalam intervensi itu antara lain pemberian tablet penambah darah bagi ibu hamil, pemeriksaan lengkap terhadap ibu hamil, pemberian tablet darah bagi remaja putri, fokus memperhatikan asupan gizi dalam 1.000 hari kehidupan pertama sampai sampai anak usia 24 bulan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, munculnya stunting antara lain dari kesehatan ibu hamil dan menyusui, dan kurangnya ASI. Oleh karena itu, semua pihak harus sadar dan memperhatikan hal ini termasuk intervensi dari masa remaja mulai usia 14 tahun agar anak lahir tidak dengan berat badan rendah, imunsasi juga harus lengkap, dan memperhatikan makanan bergizi seimbang.

"Data yang sebanyak 870 warga atau 31,5 persen ini merupakan data tahun 2017. Untuk data tahun 2018 belum rilis, kami masih menunggu Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim. Angka sebesar 31,5 persen ini menempatkan stunting di Kutai Barat berada di posisi lima setelah Bontang, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser," tutup Rachel. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: