Pedagang Pestisida Palsu di Brebes, Edarkan Produknya dari Pintu ke Pintu

TrubusNews
Syahroni
26 Mar 2019   22:00 WIB

Komentar
Pedagang Pestisida Palsu di Brebes, Edarkan Produknya dari Pintu ke Pintu

2 pelaku perdagangan pestisida palsu di Brebes diringkus polisi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kabupaten Brebes memiliki hamparan lahan pertanian yang cukup luas. Menurut Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes, wilayah pertanian di Brebes menempati peringkat tertinggi di Asia Tenggara dengan luas areal 135.000 hektare. Dari jumlah areal pertanian sebesar itu, sebanyak 105.000 hektare lahan ditanami padi sementara sisanya ditanami bawang merah.

Ia menambahkan, di Filipina, luas lahan bawang hanya 7,000 hektare. Sementara di Thailand, luasnya hanya mencapai 2500 hektare. Dengan luasan lahan pertanian bawang yang ada di Brebes ini, tambah Furqon, secara otomatis Brebes menjadi pengguna pestisida paling tinggi di Asia Tenggara.

Namun sayangnya, dengan kondisi seperti ini, Brebes justru dijadikan target peredaran pupuk dan obat pestisida ilegal mapun palsu. Obat-obatan dan pupuk ini tidak masuk dalam daftar di Kementan. 

Baca Lainnya : Kebutuhan Obat Pertanian Tinggi, Brebes jadi Target Peredaran Pestisida Palsu

Belum lama ini, 2 pelaku perdagangan berhasil diringkus Polres Brebes. Namun sebelumnya, mereka dengan lenggangnya mengedarkan produk palsu mereka ke para petani. Ada beberapa cara yang biasa dilakukan pelaku perdagangan pupuk dan obat pestisida palsu dalam memasarkan barang dagangan mereka.

Selain dijual di toko pengecer obat pertanian, produk mereka juga dipasarkan melalui pintu ke pintu atau door to door. Caranya dengan mendatangi kelompok-kelompok tani dan merayu mereka dengan harga murah.

"Mulanya dapat laporan dari kelompok tani di Desa Rancawulu. Saya cek ternyata benar. Modusnya pertama dengan mendatangi kelompok tani. Kedua dengan persaingan harga. Misalnya beli dua dapat satu," terang Furqon belum lama ini.

Dari laporan itu, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes menemui petani yang sudah membeli. Setelah dilakukan pengecekkan, ada kejanggalan dalam nomor register. Dimana nomor register itu tidak masuk dalam daftar Kementerian Pertanian.

Baca Lainnya : Jangan Salah Beli, Begini Cara Mengenali Obat Pertanian Palsu dan Asli

"Saat dicek, nomor register tidak sesuai dengan peraturan Kementan, jadi patut dicurigai adalah obat dan pupuk palsu," imbuhnya.

Secara rinci diuraikan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 24 Tahun 2011 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran Pestisida, nomor pendaftarannya harus terdiri dari huruf RI dan dilanjut dengan 14 digit. Jika nomor register tidak sesuai maka akan dikategorikan sebagai produk palsu dan ilegal.

Salah seorang pemilik toko pengecer obat pertanian, Rois Amri (32) mengaku, dirinya baru sekali membeli produk tersebut. Dia mendapatkan produk obat itu dari sales keliling. 

"Baru (buka) dua bulan ini. Dari awal Januari. Pas ada yang menawarkan produk, saya ambil beberapa untuk stok di toko. Tapi memang tidak tahu kalau produknya ternyata palsu (tidak terdaftar)," aku pemilik kios Amri Jaya Tani ini. [RN]    

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: