4 Penyelundup Burung dan Primata Dilindungi di Riau, Resmi Ditetapkan jadi Tersangka

TrubusNews
Syahroni
25 Mar 2019   23:00 WIB

Komentar
4 Penyelundup Burung dan Primata Dilindungi di Riau, Resmi Ditetapkan jadi Tersangka

Seekor owa yang diamankan balai gakkum KLHK Sumatera yang dijadikan barang bukti penyelundupan. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Balai Penegakan Hukum Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan empat pelaku kasus penyelundupan unggas dan primata dilindungi tujuan Malaysia sebagai tersangka. Dari 5 pelaku yang diduga terlibat, seorang warga Riau berinisial EF, tidak ditetapkan sebagai tersangka dan hanya dijadikan sebagai saksi.

Kepala Balai Gakkum KLHK Sumatera, Eduard Hutapea menjelaskan, EF yang tercatat sebagai warga Rupat, Bengkalis, perannya hanya diminta empat tersangka lainnya membelikan tiket kapal tujuan Malaysia. 

Baca Lainnya : Penyelundupan Satwa Dilindungi Senilai Rp3 Miliar Tujuan Malaysia Digagalkan

"Dia tidak tahu barang bawaan temannya," kata Eduard di Pekanbaru, Senin (25/3).

Sementara empat tersangka dimaksud berinisial SW (36), TR (20), AN (24), serta YA (29) diduga kuat tahu aksi mereka menyelundupkan puluhan burung dilindungi dan 2 primata adalah prilaku melanggar hukum.

"Secara eksplisit mereka mengaku tidak tahu bawaannya itu merupakan satwa dilindungi, kira-kira begitu," paparnya.

Baca Lainnya : Berburu Dalang Penyelundup Burung Dilindungi Tujuan Malaysia

Penetapan tersangka dilakukan setelah Eduard bersama BBKSDA serta Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau melakukan gelar perkara. Dua alat bukti sudah dikantongi dan berikutnya melengkapi berkas tersangka.

"Saat ini masih dicari satu pria inisial E, dia diduga sebagai dalang penyelundupan. Jadi ini jaringan penjualan satwa dilindungi internasional krena melibatkan antar negara," tegas Eduard.

Atas perbuatannya, empat tersangka dijerat dengan Pasal 21 ayat 2 huruf a juncto Pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Mereka terancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: