Panen Raya Jagung Berimbas pada Turunnya Harga Pakan Ternak

TrubusNews
Syahroni
21 Mar 2019   22:30 WIB

Komentar
Panen Raya Jagung Berimbas pada Turunnya Harga Pakan Ternak

Sentra produksi jagung di Indonesia saat ini tengah memasuki musim panen raya. (Foto : Doc/ Kementan RI)

Trubus.id -- Pada periode Februari hingga Maret, sebagian wilayah di Indonesia tengah memasuki musim panen jagung. Dengan berlimpahnya produksi jagung di saat panen raya seperti saat ini, tak hanya petani jagung saja yang sumringah. Pemilik usaha peternakan juga terkena dampaknya. Yah, dengan berlimpahnya jagung produksi para petani, harga pakan ternak yang semula melambung tinggi sedikit banyak mulai teratasi.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, sejak bulan lalu harga pakan ternak sudah berangsur turun. Diakui, penurunan harga terjadi karena penurunan harga jagung yang saat ini tengah melimpah. Dengan turunnya harga jagung dan turunannya seperti pakan ternak, dipastikan akan berimbas juga pada penurunan harga ternak itu sendiri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, penurunan harga terlihat berdasarkan laporan dari beberapa pabrik pakan yang diterima Kementan. Menurut laporan, harga pakan ayam broiler kini sudah turun Rp100-300 per kilogram (kg), dan pakan ayam layer turun Rp150-300 per kg. Sementara, harga pakan broiler saat ini berada di kisaran Rp 6.700-7.300 per kg dan pakan layer di kisaran Rp 5.200-6.200 per kg.

Baca Lainnya : Produksi Melimpah di Blitar, Kementan Dorong Peternak Serap Jagung Petani

Tingginya harga ternak, seperti unggas dan daging sapi disebabkan mahalnya harga pakan. Dia mengatakan salah satu solusi dalam menangani masalah tingginya harga kebutuhan pangan ini adalah dengan memastikan ketersediaan pakan ternak, utamanya jagung pada harga yang wajar.

Menurut Ketut pakan sangat mempengaruhi efisiensi dalam budidaya ternak. Pasalnya, biaya budidaya ternak menempati porsi terbesar dari total biaya produksi yaitu 70-80 persen.

“Jadi, pakan yang disediakan harus baik kualitasnya, cukup jumlahnya, dan harganya terjangkau,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta belum lama ini.

Baca Lainnya : Kementan Dorong Kerjasama Petani Jagung di Lebak dengan Produsen Pakan Ternak

Selain itu, pemerintah terus menjembatani hasil panen jagung petani agar diserap oleh peternak. Alasannya, jagung untuk bahan pakan ternak merupakan komponen terbesar yang dibutuhkan pabrik pakan skala besar, peternak ayam mandiri (self mixing), dan pabrik pakan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), termasuk pabrik pakan milik koperasi susu.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto menyampaikan harapannya mengenai kontinuitas pasokan jagung terutama saat musim kemarau.

“Itu untuk menjamin tidak terjadi penurunan stok jagung yang berpotensi mempengaruhi fluktuasi harga pakan,” kata Desianto.

Berdasarkan perhitungan, produksi pakan GPMT tahun 2018 sebesar 19.4 juta ton sehingga dibutuhkan jagung 7, 8 juta ton. Sementara, kebutuhan jagung peternak self mixing sekitar 3 juta atau rata-rata 250 ribu ton per bulan. Perkiraan kebutuhan jagung sebagai bahan pakan ternak pada tahun 2019 untuk GPMT adalah 8.28 juta ton. Sedangkan, untuk peternak mandiri sebesar 2,92 juta ton. Total kebutuhan sebesar 11,2 juta ton atau rata-rata 925 ribu ton per bulan. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: