Karhutla Kepung Habitat Harimau Sumatera di Hutan Suaka Margasatwa Kerumutan

TrubusNews
Syahroni
21 Mar 2019   18:30 WIB

Komentar
Karhutla Kepung Habitat Harimau Sumatera di Hutan Suaka Margasatwa Kerumutan

Kebakatan hutan kepung hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, rumah terakhir Harimau Sumatera. (Foto : Trubus.id/ M Syukur)

Trubus.id -- Hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan Provinsi Riau dikepung titik api dari Desa Sri Guntung, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Petugas saat ini tengah berusaha keras membuat sekat agar api tak masuk ke kawasan yang menjadi habitat Harimau Sumatera itu.

Sekat dimaksud berupa parit yang digali secara manual oleh petugas gabungan TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau dan Manggala Agni. Pemadaman juga melibatkan helikopter yang melakukan water bombing atau bom air.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Gafur, akan bahaya sekali kalau api masuk ke SM itu. Pasalnya kawasan di sana masih alami dan banyak bahan yang membuat api mudah membesar.

Baca Lainnya : Warga Riau Diminta Antisipasi Karhutla di Tengah Peralihan Musim

"Banyak 'bahan bakarnya' di sana, mudah-mudahan tidak sampai masuk, apalagi tadi sudah diguyur hujan," kata Jim di Pekanbaru, Kamis (21/3).

Jim menjelaskan, kebakaran lahan di sana terpantau sejak beberapa hari belakangan. Awalnya titik api hanya berjarak dua kilometer dan terus bergerak dari Desa Sri Guntung ke SM Kerumutan.

"Desa Sri Guntung berbatasan langsung dengan Kerumutan. Kemudian terpantau juga titik api di Desa Teluk Binjai, Pelalawan, yang juga berbatasan dengan Kerumutan," kata Jim.

Jim menyatakan, kebakaran lahan di perbatasan SM Kerumutan menjadi prioritas Satgas Karhutla Riau. Satu heli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana dikerahkan ke sana karena tim darat kesulitan menjinakkan api.

Kendala tim darat, tambah Jim, adalah keterbatasan air. Meskipun petugas sudah menggali lebih dalam di tanah tapi sumber air masih sulit didapatkan.

Baca Lainnya : Periode Januari-Maret 2019, Karhutla di Riau Telah Melahap 1.761 Hektare

"Api yang mendekati kawasan hutan suaka margasatwa menjadi prioritas, begitu juga dengan kebakaran yang mendekati pemukiman, makanya diterbangkan satu heli. Sebetulnya ada dua helikopter, tapi satunya masih maintenance," terang Jim.

Sejauh ini, Karhutla di Riau sejak Januari 2019 hingga 20 Maret 2019 sudah menghanguskan 2.500 hektare lahan. Sebagian besar lahan terbakar merupakan gambut karena mudah terpantik api saat musim kemarau.

Selain kekeringan, pemadaman di lahan gambut tergolong sulit. Api yang biasanya padam dipermukaan ternyata masih menyimpan bara di bawah sehingga mudah terbakar kalau tertiup angin.

"Mudah terbakar dan sulit dipadamkan, itu gambut. Gambut kalau sudah kering sangat sulit mendapatkan sumber air," ucap Jim.

Baca Lainnya : Padamkan Karhutla di Riau, 10 Helikopter Dikerahkan

Jim menerangkan, kebakaran lahan terluas terdapat di Kabupaten Bengkalis yaitu 1.250 hektare. Kebakaran terparah terjadi tiga pekan lalu sehingga kabut asapnya sempat menyelimuti Kota Dumai.

Hingga Kamis (21/3), Jim menyebut titik api masih menyala di Riau, di mana sebagiannya sudah bisa dikendalikan dan tinggal pendinginan. Hujan yang turun pada dini hari Kamis disebut Jim ikut membantu pemadaman.

"Alhamdulillah sudah mulai hujan, tapi petugas dihimbau tidak lengah, karena intensitas hujan belum lebat dan durasinya tidak lama," kata Jim.

Dari total luasan kebakaran di Riau, Jim menyebut paling banyak terjadi di lahan milik masyarakat dan hutan area penggunaan lain (APL). Area ini merupakan kawasan hutan yang dipertahankan hutannya sebagai kawasan hutan yang terdiri dari hutan konservasi, lindung, produksi terbatas dan tetap. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bambang Ismawan Ungkap Tantangan Mendirikan Majalah Trubus

Peristiwa   06 Des 2019 - 15:13 WIB
Bagikan: