Cegah Bencana Terulang, Warga Lereng Gunung Cycloop akan Direlokasi

TrubusNews
Syahroni
21 Mar 2019   17:30 WIB

Komentar
Cegah Bencana Terulang, Warga Lereng Gunung Cycloop akan Direlokasi

Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto : Wikipedia)

Trubus.id -- Saat populasi dunia terus bertambah, peran hutan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Keberadaan hutan menjaga udara, tanah, dan air tetap sehat. Hutan juga memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Seperti perubahan iklim, menghilangkan kelaparan dan membuat pembangunan masyarakat perkotaan dan pedesaan berkelanjutan.

Namun demikian, ketika hutan sudah beralih fungsi, bencana bisa kapan saja terjadi. Seperti yang belum lama ini terjadi di kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Alih fungsi hutan di sekitar Cagar Alam Gunung Cycloop dituding menjadi penyebab banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Untuk itu, penanganan untuk mencegah peristiwa terulang harus dilakukan.

Baca Lainnya : Rusaknya Ekosistem Gunung Cycloop, Biang Keladi Banjir Bandang di Sentani

Gubernur Papua, Lukas Enembe sendiri sudah mengajukan relokasi warga di kawasan Cagar Alam Cycloop ke wilayah Jayapura–Wamena kepada Presiden RI, Joko Widodo. Namun dirinya belum memastikan lokasi detailnya. 

"Rencana ini sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo dan direspons positif, hanya saja mengenai lokasi pastinya belum ditetapkan," katanya seperti dilansir Antara.

Menurut Gubernur, Pemprov Papua juga ke depan akan mendirikan fasilitas pelayanan publik bagi warga yang direlokasi, seperti rumah sakit, sekolah, dan perumahan, namun rencana ini masih harus disosialisasikan lebih dulu.

"Bencana seperti ini sudah terjadi berulang kali dalam kurun waktu tertentu maka warga mau tidak mau harus direlokasi. Kami akan siapkan pemukiman dan fasilitas lainnya bagi warga," ujarnya.

Baca Lainnya : Sungai Sentani Meluap lagi, 2.764 KK Masih Terjebak di Pengungsian

Sementara, Wakil Gubernur (Wagub) Papua, Klemen Tinal mengatakan pihaknya meminta dengan tegas kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan aktivitas di kawasan Cagar Alam Cycloop.

"Dengan melihat fakta yang terjadi kini, masyarakat sudah seharusnya sadar untuk ke depan tidak melakukan aktivitas di kawasan Cycloop, pasalnya bencana banjir bandang tidak bisa dianggap biasa," katanya.

Sebelumnya, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring juga sudah mengatakan hal serupa. Ia menilai, ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir bandang terjadi di Sentani. Faktor pertama, kondisi geografis pegunungan Cycloop yang memiliki kontur tanah dengan kemiringan sekitar 40 hingga 90 derajat selain itu tanah dipermukaan gunung yang sangat tipis, di bawahnya adalah batu-batuan sehingga tanah tersebut sangat mudah tergerus oleh air.

Baca Lainnya : Polisi Akan Selidiki Penyebab Kerusakan Ekosistem di Gunung Cycloop

Selanjutnya adalah faktor cuaca ekstrem dmana curah hujan di Jayapura, Papua sangat tinggi dalam seminggu terakhir yang mengakibatkan terjadinya air bah mengalir deras dari pegunungan Cycloop. Faktor selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah berubahnya fungsi lahan dari Cagar Alam Cycloop menjadi lahan kebun masyarakat di lereng Cycloop sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan hutan.

"Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya gelondongan kayu-kayu besar yang terbawa arus air dari gunung hingga ke daratan sebagai indikator terjadinya kerusakan hutan di atas gunung," katanya, Rabu (20/3) kemarin. [RN]

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bambang Ismawan Ungkap Tantangan Mendirikan Majalah Trubus

Peristiwa   06 Des 2019 - 15:13 WIB
Bagikan: