Eksploitasi Manusia Dominasi Penyebab Bencana Sentani, Papua

TrubusNews
Binsar Marulitua
19 Mar 2019   09:30 WIB

Komentar
Eksploitasi Manusia Dominasi Penyebab Bencana Sentani, Papua

Banjir yang terjadi di Papua (Foto : ANTARA FOTO)

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) mengungkapkan ada beberapa faktor tejadinya bencana yang menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di Sentani  Kabupaten Jayapura, Papua. Tetapi, faktor manusia cukup dominan menjadi penyebab bencana dibandingkan kombinasi faktor topografi dan cuaca. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan faktor manusia yang menjadi hulu bencana adalah perambahan di sekitar Pegunungan Cyclop oleh 43.030 orang atau 753 kepala keluarga sejak 2013. Padahal, kawasan tersebut telah masuk dalam perlindungan cagar alam. 

Faktor penyebab bencana yang bersumber dari manusia lainnya adalah, penebangan pohon untuk pembukaan lahan, perumahan dan kebutuhan kayu. Selanjutnya terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campur pada Daerah Tangkapan Air (DAT) banjir seluas 2,414 hektare. 

"Adanya tambang galian C, juga menjadi penyebab." jelas Sutopo dalam press conference di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/3). 

Sutopo menjelaskan faktor bencana yang bersumber dari cuaca ikut memperburuk keadaan. Wilayah Kabupaten Jayapura pada Sabtu (16/3) dilanda cuaca hujan ekstrem dengan intensitas 248,5 mm selama 7 jam mulai pukul 17.00 - 24.00 WIT. Apalagi dengan tingkat kecuraman di atas 40 derajat, maka unsur gravitasi membawa material dengan sangat cepat ke daerah yang lebih rendah.

"Topografi di bagia hulu agak curam - curam di bagian hilir datar dan landai. Batuan di hulu adalah remah sangat mudah tererosi," tambah Sutopo. 

Dijelaskan Sutopo, Adanya longsor karena proses alami di wilayah timur Sentani dan membentuk bendung alami yang jebol ketika hujan ekstreem. Lokasi titik banjir di 9 kelurahan merupakan dataran aluvial dan berdekatan dengan lereng kaki (floot slope)  sehingga secara geomorfologis merupakan sistem lahan yang tergenang (inundated land system). 

Hingga Senin (18/3/2019)pukul 14.20 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 77 orang dan 43 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah Provinsi Papua telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak tanggal (17/3).

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan:          
Bagikan: