Tragis, Seekor Paus Mati dengan Tas Belanja dan Karung Beras di Dalam Lambung 

TrubusNews
Binsar Marulitua
19 Mar 2019   09:03 WIB

Komentar
Tragis, Seekor Paus Mati dengan Tas Belanja dan Karung Beras di Dalam Lambung 

Paus di lautan (Foto : Andrea Holien)

Trubus.id -- Kematian paus akibat menelan sampah plastik terus berulang. Paus Cuvier berparuh ditemukan mati pada Sabtu (16/3/2019) di pantai Kota Mabini, Provinsi Compostela Valley. Tragisnya, di perut paus tersebut ditemukan sampah plastik seberat 40 kilogram. 

Biro Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Filipina mengatakan para nelayan dan staf pemerintah setempat sempat mencoba mengembalikan hewan itu ke laut. Namun, beberapa kali usaha untuk mendorong ke lautan lepas, selalu  gagal karena mamalia itu selalu kembali ke tempat yang dangkal.

"Paus itu tak bisa berenang sendiri. Dia sudah amat lemah. Dia mengalami dehidrasi dan di hari kedua hewan itu muntah darah," kata direktur biro Fatma Idris.

Kelompok lingkungan Filipina, Global Alliance for Incinerator Altenative  menyebut peristiwa ini  merupakan kasus kematian paus terburuk. Filipina sebagai salah satu negara dengan pencemar laut terbesar di dunia karena kebergantungan pada plastik sekali pakai.

Kelompok lingkungan tersebut nekropsi pada paus sepanjang 4,7 meter tersebut dan menemukan sekitar 40 kilogram sampah plastik, dalam bentuk tas belanja dan karung beras.

Direktur D'Bone Collector Museum, Darrell Blatchley, yang turut membantu pemeriksaan, paus tersebut mati kelaparan dan tidak bisa makan karena sampah plastik memenuhi perutnya.

"Ini sangat menjijikkan dan memilukan. Kami melakukan nekropsi pada 61 ekor lumba-lumba dan paus dalam 10 tahun terakhir dan ini salah satu (jumlah plastik) terbesar yang pernah kami lihat," kata Blatchley. 

Sementara itu Direktur Biro Perikanan dan Perairan Wilayah, Fatma Idris, mengatakan, ikan itu tak punya tenaga untuk berenang ke tengah lautan karena lemas.

"Dia tidak bisa berenang sendiri, kurus, dan lemah. Hewan ini mengalami dehidrasi. Pada hari kedua dia berjuang dan memuntahkan darah," kata Fatma seperti dikutip AFP, Senin (18/3).

Kasus kematian paus ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Aliansi Global Alliance for Incinerator Alternative merilis laporan tentang rekor jumlah plastik sekali pakai yang digunakan di Filipina, termasuk hampir 60 miliar bungkus saset per tahun.

Filipina sebenarnya memiliki undang-undang ketat tentang pembuangan sampah, namun ahli lingkungan mengatakan tidak diterapkan dengan baik.

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Bambang Ismawan Ungkap Tantangan Mendirikan Majalah Trubus

Peristiwa   06 Des 2019 - 15:13 WIB
Bagikan: