BMKG: Informasi Soal Debit Air Bendungan di DIY Melebihi Batas Aman Adalah Hoax

TrubusNews
Syahroni
18 Mar 2019   16:00 WIB

Komentar
BMKG: Informasi Soal Debit Air Bendungan di DIY Melebihi Batas Aman Adalah Hoax

Tim penolong tengah melakukan proses evakuasi korban bencana banjir dan longsor di Bantul. (Foto : Radar Jogja)

Trubus.id -- Intensitas hujan yang terjadi sepanjang Minggu (17/3) kemarin di wilayah Daerah Istimewa yogyakarta memicu timbulnya bencana Hidrometeorologi di berbagai wilayah. Banjir dan tanah longsor dilaporkan melanda sejumlah wilayah seperti Kulon Progo dan Bantul. Akibat kejadian ini, ribuan warga mengungsi, Tak hanya itu 2 warga juga dilaporkan tewas, sementara 2 lainnya masih dinyatakan hilang tertimbun longsor.

Namun sayangnya, di tengah duka yang tengah dialami warga DIY, masih ada segelintir orang tak bertanggung jawab yang sepertinya ingin menebar ketakutan. Salah satu contohnya dengan menyebar berita bohong atau hoax dengan mengatas namakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Dalam unggahannya di media sosial yang kemudian menjadi viral sejak kemarin (17/3), pengunggah menyebutkan bahwa badai yang terjadi kemarin mengakibatkan debit air bendungan melebihi batas aman. Berikut isi kabar yang jadi viral tersebut: 

"Info dr BMKG @DIY akan tjd badai dr tgl 17 sd 20, puncak badai tgl 18-19 dan akan berakhir tgl 20, kekuatan angin mencapai 45 knots, monggo yg punya pohon bsr d mulai rapuh segera ditebang saja demi keamanan bersama d info di bbrp Bendungan mulai sore ini debit air sdh melebihi batas aman d dlm status siaga, hati² d waspada Lurrr dimanapun qt berada [jgn terlalu pules istirahatnya malam ini."

Baca Lainnya : 5.046 Warga Mengungsi, 2 Tewas dan 2 Hilang Akibat Banjir dan Longsor di Yogya

Menanggapi unggahan berita itu, Kepala Stasiun Klimatologi Mlato Yogyakarta, Reni Kraningtyas langsung memberikan klarifikasi. 

"Kami BMKG DIY, Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta menyatakan bahwa berita tersebut adalah hoax karena bukan bersumber dari kami dan isi berita tersebut tidak benar atau tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Reni Kraningtyas dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/3).

Reni menjelaskan, bahwa hujan kategori sangat lebat di DIY yang turun selama 1 hari (17 Maret 2019) telah menimbulkan banjir di wilayah Bantul dan Kulon Progo. Pengukuran curah hujan di Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta mencapai 107 mm.

Analisis dinamika-atmosfer berdasarkan streamline 17 Maret 2019 pukul 07.00 WIB, menunjukkan aktifitas TC Savannah di Samudera Hindia merupakan salah satu faktor yang berperan secara tidak langsung terhadap pembentukan awan-awan hujan di Jawa karena membentuk palung tekanan udara rendah (trough) memanjang dari pusat siklon hingga wilayah Jawa. 

Baca Lainnya : Masyarakat Yogyakarta Diminta Waspada Banjir dan Longsor Akibat Anomali Cuaca

"Perkembangan hari ini 18 Maret 2019 berdasarkan streamline 17 Maret 2019 pukul 12.00 UTC menunjukkan pergerakan TC Savannah semakin menjauh dan tidak berpengaruh lagi terhadap pola angin dan pembentukan awan-awan hujan di Jawa," terangnya. 

Secara umum curah hujan hari ini semakin menurun namun hujan ringan-sedang di wilayah DIY masih berpotensi hingga tanggal 20 Maret 2019 disebabkan oleh belokan angin (konvergensi) akibat aktivitas vortex (Low Pressure Area) di perairan sebelah selatan NTT dengan tekanan udara di pusatnya 1006 mb. 

Menyikapi berita hoax yang marak beredar di Medsos, pihaknya menghimbau kepada masyarakat Yogyakarta untuk lebih teliti meyakini suatu berita. Kemudian mengklarifikasi kepada BMKG DIY, Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta. dan yang terakhir, tidak menyebarkan berita yang diterima sebelum memastikan berita tersebut adalah benar atau valid dan bersumber dari BMKG. [RN]    

  2


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: