KLHK Beberkan Solusi dan Faktor Penyebab Banjir Bandang Sentani, Papua

TrubusNews
Binsar Marulitua
18 Mar 2019   08:32 WIB

Komentar
KLHK Beberkan Solusi dan Faktor Penyebab Banjir Bandang Sentani, Papua

Perubahan perubahan tutupan lahan DTA banjir (Foto : KLHK)

Trubus.id -- Musibah banjir bandang dan longsor di Sentani, Jayapura, Papua, yang terjadi pada  Sabtu (16/3) malam telah merengut nyawa 58 orang. Tidak hanya itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mendata, 4 ribuan warga mengungsi dan 350-an bangunan rusak. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjelaskan, berdasarkan laporan Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS, daerah yang terdampak langsung dari musibah tersebut adalah Jayapura Utara dan Selatan, Abepura, Heram, Sentani dan sekitarnya. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan musibah tersebut. 

Baca Lainnya : Bencana Sentani, Jokowi Minta Kepala BNPB Utamakan Evakuasi Korban

Faktor yang pertama adalah curah hujan ekstrem membuat bendung alami jebol ketika tidak bisa menahan daya tampung yang diluar daya kapasitas. 

"Bencana banjir bandang ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya curah hujan ekstrem, adanya longsor krn proses alami di wilayah Timur Sentani & membentuk bendung alami yang jebol ketika hujan ekstrem, " jelas KLHK melalui akun media sosial resmi Twitter @KementerianLHK, Minggu (17/3). 

Faktor Lainnya menurut KLHK adalah terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campur, pada Daerah Tangkapan Air (DTA) banjir seluas 2.415 ha. Berdasarkan peta kerawanan banjir limpasan, sebagian besar DTA banjir merupakan daerah dengan potensi limpasan tinggi dan ekstrem.

Selain itu, lokasi titik banjir adalah dataran aluvial dan dekat dengan lereng kaki, sehingga secara geomorfologis merupakan sistem lahan yang tergenang. 

Baca Lainnya : Sampaikan Duka Cita, Jokowi Fokus Penghijauan pada Bekas Perkebunan Sawit di Sentani

Beberapa langkah preventif sebenarnya telah dilakukan seperti melakukan rehabilitasi hutan dan lahan tahun 2014-2016 seluas 710,7 ha pada DTA banjir. 

Selain itu, solusi yang akan diambil adalah mengembalikan kawasan hutan sesuai dengan fungsinya. Kemudian melakukan peninjauan tata ruang berdasarkan pertimbangan pengurangan risiko bencana dan mengembangkan skema adaptasi di titik banjir.

Solusi lainnya adalah dengan  internalisasi Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu (RPDAST) dan Program Rehabilitasi Lahan di hulu dan tengah DAS, terutama kawasan hutan ke dalam indikasi program pada tata ruang. [RN/KW]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Akuaponik

Inovasi   06 Agu 2020 - 14:10 WIB
Bagikan:          
Bagikan: