Menyusul Lore Lindu, Kepulauan Togean Diusulkan jadi Cagar Biosfer Ke UNESCO 

TrubusNews
Binsar Marulitua
17 Mar 2019   10:00 WIB

Komentar
Menyusul Lore Lindu, Kepulauan Togean Diusulkan jadi Cagar Biosfer Ke UNESCO 

Kepulauan Togean. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) di Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah, diusulkan kepada badan PBB, UNESCO untuk menjadi cagar biosfer. Jika hal tersebut terwujud, TNKT akan menjadi cagar biosfer kedua di Sulawesi Tengah setelah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Kepala Balai Taman Nasional Togean, Bustang mengatakan, pihaknya telah mengusulkan kepada United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dan besar kemungkinan disetujui menjadi cagar biosfer kedua di Provinsi Sulteng.

"Semua persyaratan sudah dipenuhi dan tinggal menunggu waktu saja untuk ditetapkan menjadi cagar biosfer," kata dia di Poso, Sabtu (17/3).

Baca Lainnya : Indonesia Harapkan Tambah Tiga Cagar Biosfer Baru ke Unesco

Mantan Kepala Tata Usaha Balai Besar TNLL itu mengatakan jika Taman Nasional Togean ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer, maka perlakukannya akan sama dengan taman nasional lainnya.

Di Indonesia, hingga kini baru ada 11 cagar biosfer yang ditetapkan UNESCO, termasuk TNLL, yang sebagian terletak di Kabupaten Poso dan sebagian lagi Kabupaten Sigi.

Ia menambahkan, terdapat tujuh pulau besar di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, sebagai kawasan strategis konservasi hutan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT). Secara rinci tujuh pulau besar itu yakni Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Togean, Pulau Tatatako, Pulau Malenge, dan Pulau Walea Kodi serta Walea Besar.

"Semua pulau itu memiliki hutan bakau," kata Bustang.

Areal hutan mangrovenya seluas 5.639,94 hektare, namun yang masuk dalam pengawasan TNKT hanya 359,45 hektare, tersebar di beberapa pulau. Sementara luas kawasan konservasi darat yang menjadi tanggung jawab TNKT kurang lebih 25.000 hektar, sedangkan kawasan konservasi laut 340.000 hektar.

Selain kawasan konservasi, juga terdapat sembilan pulau di Kepulauan Togean dikembangkan sebagai destinasi wisata alam yang masuk dalam pengawasan Balai TNKT.

Baca Lainnya : Petugas Gabungan Tangkap Perambah Cagar Biosfer Giam Siak Kecil

Menurut dia, hutan bakau menjadi salah satu kawasan konservasi cukup besar di Kepualauan Togean, yang dengan hutan itu sangat berperan penting untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat pesisir dari ancaman bencana erosi dan abrasi bahkan tsunami, karena sebagian besar pemukiman penduduk setempat berhadapan langsung dengan laut.

Selama ini, pihaknya melibatkan dan memberikan ruang kepada masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Selain itu, kawasan yang masuk dalam wilayah Teluk Tomini masih banyak spesies binatang laut dilindungi yang hidup di perairan maupun daratan Togean, di antaranya penyu, biawak togean, kepiting kenari, kima, ikan dugong, lumba-lumba, kuda laut, ikan napoleon, karang batu (coral), ketam tapak kuda, ikan naga termasuk buaya muara dan masih banyak spesies lainnya.

Kepulauan tersebut telah ditetapkan sebagai objek wisata prioritas Sulteng, bahkan menjadi kawasan wisata strategis nasional oleh Kementerian Pariwisata. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Menkraf Dorong Indonesia Miliki Peta Geospasial Pariwisata

Peristiwa   22 Feb 2020 - 14:25 WIB
Bagikan:          

Italia Umumkan Kasus Kematian Kedua Akibat Covid19

Peristiwa   22 Feb 2020 - 18:36 WIB
Bagikan: