Antisipasi El Nino 2019, Kementan Siapkan Tim Khusus Penanganan Kekeringan

TrubusNews
Thomas Aquinus | Followers 2
16 Mar 2019   10:00

Komentar
Antisipasi El Nino 2019, Kementan Siapkan Tim Khusus Penanganan Kekeringan

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Menhadapi anomali cuaca yang berpotensi El Nino di 2019, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah-langkah antisipasi dengan mempersiapkan Tim Khusus Penanganan Kekeringan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menyampaikan pengaruh El Nino ini membuat musim kemarau datang lebih awal pada tahun ini yakni bulan April. Secara umum puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus-September 2019. Nantinya, tim Khusus Penanganan Kekeringan yang dipersiapkan Kementan akan terjun ke lokasi-lokasi kekeringan di wilayah sentra produksi padi.

"Pemerintah perlu mewaspadainya dengan mengantisipasi terjadinya kekeringan dan kegagalan panen pada tanaman pertanian," kata Herizal, Jumat (15/3).

Baca Lainnya : KLHK Antisipasi El Nino yang Picu Karhutla di 2019

Namun demikian, Herizal menyatakan El Nino tahun ini tidak akan separah pada 2015. Dikatakannya, peluang terjadinya El Nino tahun ini sebesar 55 persen hingga 60 persen, sementara 25,5 persen wilayah berpotensi musim keringnya maju, 24 persen wilayah keringnya di atas normal.

"Kondisi El Nino lemah diprediksi bertahan hingga Juni-Juli 2019 dan berpeluang melemah hanya 50 persen setelah pertengahan tahun," ujarnya.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menyampaikan, tugas dan fungsi dari Tim Khusus ini nanti untuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait, antara lain TNI, Kementerian PUPR serta Pemerintah Daerah setempat.

Tujuannya untuk memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari Bendung atau Bendungan. Serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring air sesuai jadwal yang telah disepakati.

Baca Lainnya : Siklus El Nino Datang Lebih Cepat, Potensi Karhutla Indonesia Meningkat

"Secara umum permasalahan kekeringan yang terjadi disebabkan oleh curah hujan yang sedikit dan kondisi penggelontoran debit air dari Bendung atau Bendungan mengalami penurunan," ujar Sarwo Edhy.

Sementara itu pada tingkat pengaturan debit air, penyusunan rencana pengalokasian air dilaksanakan masih berdasarkan asas pemerataan per bangunan, belum fokus pada upaya penyelamatan tanaman yang kondisinya menjelang puso.

"Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi provinsi yang paling rawan terdampak kekeringan," katanya.

Sebagai antisipasi awal, Kementan juga telah memberikan bantuan Pompa Air ke petani. Serta kegiatan pembangunan Embung, Dam Parit, Long Storage, Pompanisasi, Perpipaan yang dapat menambah pasokan air bagi tanaman terutama di musim kemarau.

Baca Lainnya : Ada Fenomena El Nino, Jogjakarta Akan Alami Kekeringan Ekstrem?

"Selain itu perbaikan saluran irigasi tersier untuk menjamin volume air cukup sampai pada lahan sawah yang berada di ujung saluran," ujarnya.

Tidak ketinggalan, Direktur Irigasi Pertanian, Rahmanto mengungkapkan, pihaknya juga akan membentuk posko penanganan kekeringan dan menurunkan tim khusus pada beberapa wilayah yang terkena kekeringan nantinya. 

"Tahun lalu posko-posko itu didirikan di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung, serta Kabupaten Tuban," kata Rahmanto.

Sebagai contoh, di Kabupaten Indramayu, melalui kegiatan sinergitas antar instansi terkait dan pengawalan gilir giring, serta pompanisasi irigasi dapat menyelamatkan lahan sawah yang terancam kekeringan seluas 1.329 ha di Kecamatan Losarang, sementara di Kecamatan Kandanghaur terselamatkan lahan sawah seluas 445 ha. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: