Hadang Gelombang Tinggi, Pemerintah Ternate Bangun Benteng di Pantai  

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
15 Mar 2019   17:00

Komentar
Hadang Gelombang Tinggi, Pemerintah Ternate Bangun Benteng di Pantai  

Gelombang tinggi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Pantai Laksana yang berada Kelurahan Rua, Ternate sering terjadi gelombang tinggi. Saat gelombang tinggi terjadi, masyarakat pesisir selalu resah dan khawatir. Sebab, saat gelombang pasang air laut terjadi bisa mencapai 2 sampai 3 meter. Bahkan gelombang air laut menyeret hingga ke permukiman warga dan ke jalan raya.

Setidaknya ada 200 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di pesisir pantai Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara.

"Setiap tahun, terutama di akhir tahun, masyarakat harus mengungsi ke tempat lebih tinggi," terang Ketua RT 04/02, kelurahan Rua, Iksan Aksat, di Ternate, Jumat (15/3).

Diakuinya, dampak gelombang tinggi juga berpengaruh terhadap mata pencaharian penduduk sekitar. Sebab, mayoritas penduduk setempat adalah nelayan.

Baca Lainnya : Gelombang Setinggi 4 Meter Masih Landa Perairan Indonesia, Ini Lokasinya

“Saat terjadi gelombang tinggi, kapal-kapal kami rusak, sehingga kami tak bisa melaut, padahal ini satu-satuya mata pencaharian kami,” tambahnya.

Kondisi yang terus berulang itu sangat menyulitkan masyarakat, dan berdampak pada kondisi ekonomi mereka yang selalu terhempas gelombang laut. Melihat kondisi tersebut, pemerintah setempat berencana membangun banteng sebagai penyangga jika gelombang tinggi datang.

“Kami mendapatkan laporan bahwa warga resah dengan gelombang tinggi air laut yang masuk ke permukiman. Kita carikan solusinya," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai II Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Safrudin Usman.

Upaya paling mendasar yang dilaksanakan, diakui Syafrudin yakni garis pantai perlu dibangun breakwater (pengaman garis pantai).

"Breakwater nantinya berguna untuk melindungi pantai yang terletak di belakangnya dari serangan gelombang yang dapat mengakibatkan erosi pada pantai," kata Safrudin Usman di Pantai Kelurahan Rua, Ternate, Jumat (15/3).

Lebih lanjut pihaknya menambahkan, pengamanan itu dibuat dari material tumpukan batu dengan panjang 100 meter. Dirinya mengaku, di wilayah Maluku Utara terdapat 2.500 kilometer garis pantai dan semua mengalami kerusakan. Maka dari itu, diperlukan pengaman garis pantai agar masyakarat aman dari gelombang air laut.

“Kami akan melanjutkan pembuatan breakwater pada pesisir pantai di Maluku Utara,” tutur Safrudin.

Baca Lainnya : Waspada, Gelombang Setinggi 4 Meter Masih Mengancam Perairan Indonesia

Tahun ini, dikatakan Safrudin, sudah ada pengerjaan breakwater di wilayah lainnya, tepatnya di RT 2 dan 4 kelurahan Rua, Maluku Utara.

“Pengerjaan untuk wilayah itu sudah dilakukan pada Januari 2019. Nantinya, akan dibuatkan breakwater sepanjang 200 meter dengan target selesai pada bulan Agustus,” tambahnya.

Pihaknya mengatakan terdapat 1200 meter garis pantai yang menjadi target PPK BWS Maluku Utara. 200 meter garis pantai sedang dikerjakan dan sisa 600 meter akan dibangun di wilayah Halmahera.

“Di wilayah Sofifi, Halmahera, Maluku Utara garis pantainya sudah rusak lumayan parah. Mungkin secepatnya akan diberikan solusi agar tidak menganggu kenyamanan warga di sana,” ujar Safrudin. [RN]

 

  1


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


jesica oktavia 15 Mar 2019 - 17:07

mau numpang promosi bo kelinci99 menyediakan 18 live game dan 4 pasaran togel ya bos BBM : 2B1E7B84

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: