Cuaca Ekstrem Landa Jogja Siang hingga Petang, BMKG Ungkap Penyebabnya

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
13 Mar 2019   20:00

Komentar
Cuaca Ekstrem Landa Jogja Siang hingga Petang, BMKG Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Terpaan cuaca buruk melanda Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta sejak Rabu (13/3) siang hingga petang. Hujan deras yang disertai angin kencang menumbangkan pohon-pohon di jalanan. Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman, cuaca buruk menumbangkan pohon hingga merusak bangunan di 5 kecamatan di wilayah tersebut.

Tak hanya itu, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Adisutjipo juga sempat terganggu. Pihak otoritas bandara bahkan sempat menutup runway untuk semua penerbangan hingga 1 jam lamanya. Runway sendiri baru dibuka kembali sekitar pukul 15.24 WIB.

"Runway sudah dibuka kembali pada pukul 15.24 WIB," kata Communication and Legal Section Head Bandara Adisutjipto, Rio Hendarto Budi Santoso dalam keterangannya, Rabu (13/3).

Baca Lainnya : Cuaca Buruk Ancam Warga Jogja 4 Hari Kedepan

Sebelumnya, karena alasan cuaca Aerodrome JOG closed pukul 14.37 WIB. Tercatat visibility di Bandara Adisutjipto 500m (below minimal) dengan kecepatan angin 7-20 knot. Diprediksi closed kurang lebih 30 menit ke depan.

Menanggapi cuaca ekstrem yang terjadi di Sleman dan sekitarnya, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Djoko Budiyono mengatakan, hujan yang terjadi siang hingga petang tadi masuk kategori cukup lebat. 

"Hujannya kategori cukup lebat, sekitar 20 mm/jam dengan kecepatan angin mencapai di atas 20 knot atau di atas 38 km/jam," kata Djoko dalam keterangannya, Rabu (13/3).

Menurut analisa BMKG, prediksi iklim di bulan Maret di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih dalam kategori basah. Artinya potensi hujan masih cukup tinggi terjadi dengan rata-rata hujan bulanan mencapai di atas 300 mm/bulan.

"Hasil analisa cuaca saat ini hingga 2-3 hari ke depan. kondisi di Yogya kembali berpotensi terjadi hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir," jelas Djoko.

Kondisi ini sendiri didukung dengan dinamika atmosfer dan laut yang memungkinkan potensi tersebut terjadi. Antara lain karena munculnya low pressure atau tekanan rendah Samudera Hindia di barat Jawa/Sumatera dan utara Australia. 

Dengan kemunculan low pressure ini memberi dampak penguatan angin baratan atau monsoon Asia (di mana angin ini banyak mengandung uap air).

Baca Lainnya : Tren Intensitas Curah Hujan Malah Menurun di Yogyakarta, Ini Penyebabnya

Selain itu, saat ini terjadi pemanasan yang cukup kuat di sekitar perarian Jawa akibat posisi matahari yang berada di kisaran equator. Dampak dari pemanasan ini mengakibatkan terjadi penguapan dalam jumlah besar sehingga banyak terbentuk awan-awan berjenis konvektif seperti Cumulonimbus (CB). Awan jenis ini umumnya terbentuk di siang hingga sore hari.

"Meskipun durasinya pendek dan lokal namun masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca yang disebabkan oleh awan ini, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir," lanjut Djoko.

Diprediksi, kondisi serupa masih akan terjadi hingga 2 hingga 3 hari kedepan. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai kondisi cuaca ektrem yang bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan petir di Yogyakarta dan sekitarnya. [RN]    

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: