Cegah Penembakan Orang Utan Terulang, BKSDA Aceh Dorong Polisi Razia Senapan Angin Ilegal

TrubusNews
Syahroni
13 Mar 2019   17:00 WIB

Komentar
Cegah Penembakan Orang Utan Terulang, BKSDA Aceh Dorong Polisi Razia Senapan Angin Ilegal

Hope, orang utan Sumatera yang diberondong tembakan oleh orang tak bertanggung jawab. (Foto : Twitter/ @sutopo_PN)

Trubus.id -- Seekor orang utan Sumatera (Pongo Abelii) ditemukan terluka cukup parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di sekujur tubuhnya, Minggu (10/3) lalu. Tragisnya, bayi orang utan yang ditemukan bersama induknya yang terluka itu, tewas sebelum mendapat pertolongan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara.

Menanggapi kejadian ini, Direktur Orangutan Information Centre (OIC), Panut Hadisiswoyo mengatakan, kondisi orangutan Sumatera kian terancam akibat perburuan dan perdagangan satwa. Di samping itu, deforestasi hutan juga memicu kerusakan habitat orangutan.

"Banyak orang utan kini terdesak dan terisolasi karena habitatnya hancur, alih fungsi lahan telah merampas rumah mereka,” kata Panut Rabu (13/3).

Pada 2018, OIC sendiri telah mengevakuasi 14 orang utan yang terisolasi di perkebunan warga di Aceh. Orang utan itu kemudian direlokasi ke kawasan hutan.

Baca Lainnya : Anaknya Mati, 74 Peluru Bersarang di Tubuh Induk Orang Utan Sumatera Ini

Adapun pada 2018, sebanyak 6 orang utan disita dari warga. Namun Panut mengatakan, penyitaan tidak memberikan efek jera karena tanpa penindakan hukum. Oleh sebab itu, Panut mendesak aparat terkait menindak warga yang memelihara dan memperdagangkan satwa lindung.

Sementara itu menurut data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh diketahui, aksi penganiayaan terhadap orang utan dengan senapan angin di Subulussalam yang terungkap Minggu (10/3) kemarin merupakan kejadian yang keempat kalinya terjadi di Aceh sepanjang 2010 hingga 2019.  

"Penyiksaan orangutan dengan menggunakan senapan angin di Aceh itu merupakan kejadian keempat sejak Tahun 2010 sampai dengan 2019, pertama di Aceh Tenggara, di Aceh Selatan, di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam," kata Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji, Rabu (13/3). 

Sapto menyebutkan, untuk mengungkap pelaku penganiayaan terhadap satwa dilindungi itu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera. 

"Mudah-mudahan pengusutan kasus penyiksaan orangutan itu terungkap, karena lokasinya berada di kebun warga. Kemudian, saat proses evakuasi ada satu orang warga yang meminta ganti rugi karena dia mengaku terluka dicakar oleh orangutan, diduga saat ingin mengambil anaknya," sebutnya. 

Baca Lainnya : Bunuh Orang Utan dengan 130 Tembakan, Nasir Cs Diganjar Vonis Ringan

Selain melakukan pengusutan, BKSDA juga akan berkoordinasi dengan Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredaran senapan angin ilegal. Sebab, jelas disebutkan dalam peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012, penggunaan senapan angin hanya untuk olahraga dan harus memiliki ijin. 

Sapto menambahkan, dari hasil pemeriksaan di Pusat Karantina di Sibolangit, induk orangutan yang telah berusia 30 tahun itu memiliki berat badan 35,68 kilogram, dengan kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi lebih dari 10 persen. 

Di bagian mulut ditemukan bengkak banyak bekas luka dan memar, sementara mata kanan mengalami bengkak dan telah rusak permanen atau buta. 

"Bagian mata sudah mengecil dan berwarna putih susu, kemungkinan kerusakan terjadi lebih dari 2-3 bulan yang lalu, mata kiri rusak, dengan pendarahan di bagian kornea dan pupil, diakibatkan tembakan 3 butir peluru senapan angin. Luka lebam di seluruh tubuh, terutama bagian kedua tangan, luka sayatan terbuka di beberapa bagian," rincinya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: